Selasa, 25 Mei 2010

TEORI MANAJEMEN MAKNA TERKOORDINASI

TEORI MANAJEMEN MAKNA TERKOORDINASI


Manajemen Makna Terkoordinasi menggambarkan manusia sebagai aktor yang berusaha untuk mencapai koordinasi dengan mengelola cara-cara pesan dimakna. Perace dan Cronen menggunakan metafora “teater tanpa sutradara”, mereka yakin bahwa di dalam kehidupan sebagaimana teater, terdapat aktor-aktor yang mengikuti semacam perilaku dramatis dan aktor lainnya menghasilkan “kekacauan yang memiliki titik-titik pertalian yang terpisah”.
Asumsi-Asumsi Manajemen Makna Terkoordinasi
Manusia hidup dalam komunikasi

Seperti pendapat Pearce (1989), bahwa komunikasi adalah, dan akan selalu, menjadi penting bagi manusia dari yang seharusnya. Maksudnya manusia hidup dalam komunikasi. Hal ini merupakan sebuah pertentangan dari teori komunikasi konvensional yang beranggapan bahwa komunikasi selalu bersifat linier. Tetapi para teoritikus CMM menilai bahwa setiap situasi sosial diciptakan melalui interaksi. Ini berarti bahwa dalam asumsi ini, terdapat suatu proses komunikasi yang terjadi dalam interaksi individu dengan yang lain.
Manusia saling menciptakan realitas sosial

Kepercayaan orang-orang dalam menciptakan realitas sosial dalam percakapan disebut sebagai konstruksionisme sosial. Realitas sosial merujuk pada pandangan seseorang mengenai bagaimana makna dan tindakan sesuai dengan interaksi interpersonalnya. Beberapa orang yang sudah saling mengenal pun akan berbeda interpretasi jika mereka jarang bertemu. Hal ini banyak menimbulkan realitas sosial baru yang mungkin menjadi realitas bersama yang akan mereka pahami di masa yang akan datang.
Transaksi informasi bergantung kepada makna pribadi dan interpersonal

Pada asumsi ini teori manajemen makna terkoordinasi berhubungan dengan cara seseorang mengendalikan percakapan atau interaksi dengan orang lain. Terdapat makna pribadi dalam setiap interaksi seseorang. Makna pribadi dan interpersonal sering kali didapat secara tidak sengaja dalam percakapan. Dalam percakapan makna interpersonal harus sering dikedepankan, sehingga pemahaman ruang lingkup pribadi lebih dapat diminimalisir dengan adanya penggunaan standar yang dimengerti bersama.

Hierarki Makna yang Terorganisir

Hierarki dalam teori ini digambarkan seperti piramida terbalik, dimana di dalam piramida tersebut terdapat asumsi-asumsi:
Isi

Merupakan langkah awal dimana data mentah dikonversikan menjadi makna
Tindak tutur

Tindakan-tindakan yang dilakukan individu dengan cara berbicara dengan orang lain.
Episode

Merupakan rutinitas komunikasi yang memiliki awal, pertengahan dan akhir yang jelas. Dalam level ini, kita mulai mendeskripsikan konteks dimana orang bertindak dan mulai melihat pengaruh dari konteks terhadap makna.
Hubungan

Dimana dua orang menyadari potensi dan betasan mereka sebagai mitra dalam sebuah hubungan.
Naskah kehidupan

Diartikan sebagai kelompok-kelompok episode masa lalu dan masa kini. Maksudnya kita dapat menjadi seperti apa yang kita rasakan dikarenakan naskah kehidupan kita yang pernah kita jalani.
Pola budaya

Manusia mengidentifikasi diri mereka dengan kelompok tertentu dalam kebudayaan tertentu. Setiap individu pasti berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat.
READ MORE - TEORI MANAJEMEN MAKNA TERKOORDINASI

TEORI-TEORI PERCAKAPAN DAN INTERAKSI

Komunikasi adalah suatu proses tansaksional yang mana tindakan seorang individu memiliki jarak yang lebar yang berpengaruh pada tindakan orang lain. Dalam pembahasan ini akan dijelaskan adanya empat teori yang tampak pada diri manusia yang memiliki sikap saling mempengaruhi satu sama lain dalam percakapan dan interaksi, yaitu Teori Manajemen Makna Terkoordinasi, Teori Akomodasi Komunikasi, Teori Pelanggaran Harapan, dan Teori Adaptasi Interaksi.
Teori Keterampilan Berbicara
Teori keterampilan berbicara bersumber pada bagian yang besar dari perkembangan bahasa dan filosofi. Secara jelas sebuah pragmatis teori bahasa digunakan pada percobaan untuk mengkodekan aturan permainan bahasa yang bervariasi terhadap orang-orang yang berinteraksi. Akan tetapi, teori keterampilan berbicara tidak semuanya tidak berhubungan dengan semantik, sintatis, dan sistem bahasa formal lainnya dan filosofi terhadap teori yang masih diuji untuk mengkodekan sebuah sistem bagaimana interaksi dapat menggunakan bahasa untuk menyempurnakan tujuan komunikasi.
Kehidupan modern dipenuhi dengan kesempatan-kesempatan untuk berbicara di depan orang lain. Mempelajari public speaking (berbicara di depan publik) sangat penting pengaruhnya bagi kita, hal ini menjadi kegiatan yang ditakuti, beberapa jajak pendapat menyatakan bahwa orang lebih takut terhadap public speaking dibandingkan kematian.

Salah satu filusuf dalam kegiatan public speaking atau retorika yang terkenal pada jaman Romawi kuno ialah Aristoteles. Aristoteles biasanya dikenal sebagai orang yang memberikan penjelasan mengenai dinamika public speaking. Dengan kata lain, Aristoteles orang pertama yang memberikan langkah-langkah dalam Public speaking
Untuk memahami kekuatan di balik kata-kata Aristoteles, sangat penting bagi kita untuk pertama-tama memahami sifat dasar dari retorika. Dengan demikian, kita dapat menjabarkan kefasihan yang sederhana dari teori retoris.
Teori Retorika berpusat pada pemikiran mengenai retorika, yang disebut Aristoteles sebagai alat persuasi yang tersedia. Maksudnya, seorang pembicara yang tertarik untuk membujuk khalayaknya harus mempertimbangkan tiga bukti retoris: logika (logos), emosi (pathos), dan etika/kredibilitas (ethos). Khalayak merupakan kunci dari persuasi yang efektif, dan silogisme retoris, yang mendorong khalayak untuk menemukan sendiri potongan-potongan yang hilang dari suatu pidato, digunakan dalam persuasi.
Aristoteles merasa bahwa khalayak sangat penting bagi efektivitas seorang pembicara. Ia menyatakan, ”dari tiga elemen dalam penyusunan pidato-pembicara, subjek, dan orang yang dituju-yang terakhirlah, para pendengar, yang menentukan akhir dan tujuan dari suatu pidato (Roberts, 1984). Membahas lebih lanjut mengenai pemikiran ini (Lord, 1994) mengamati bahwa khalayak tidak selalu terbuka untuk menerima argumen yang rasional.

Para ilmuwan komunikasi telah mempelajari Retorika dan maknanya selama bertahun-tahun dan telah berusaha menguraikan beberapa pernyataan Aristoteles. Konsep pidato terletak pada fondasi sebuah pragmatis dan bahasa biasa yang mendekat ke arah ilmu bahasa. Singkatnya, teori pidato mengusulkan kalau kami mengatakan sesuatu kita tidak hanya menyambung-nyambungkan kata atau malah melambangkan suatu arti. Sepertinya, kita sedang melakukan tindakan dengan kata. Ini terpusat pada tindakan tersirat yang sangat memberi label konsep (berpidato).
READ MORE - TEORI-TEORI PERCAKAPAN DAN INTERAKSI

STUDI ANALISIS WACANA KRITIS

ANALISIS WACANA KRITIS Analisis wacana yang dimaksudkan dalam penelitian ini, adalah sebagai upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari subyek (penulis) yang mengemukakan suatu pernyataan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang penulis dengan mengikuti struktur makna dari sang penulis sehingga bentuk distribusi dan produksi ideologi yang disamarkan dalam wacana dapat di ketahui. Jadi, wacana dilihat dari bentuk hubungan kekuasaan terutama dalam pembentukan subyek dan berbagai tindakan representasi. Dalam studi analisis wacana (discourse analysis), pengungkapan seperti itu dimaksudkan dalam kategori analisis wacana kritis (critical discourse analysis-CDA). Pemahaman dasar CDA adalah wacana tidak dipahami semata-mata sebagai obyek studi bahasa. Bahasa tentu digunakan untuk menganalisis teks. Bahasa tidak dipandang dalam pengertian linguistik tradisional. Bahasa dalam analisis wacana kritis selain pada teks juga pada konteks bahasa sebagai alat yang dipakai untuk tujuan dan praktik tertentu termasuk praktik ideologi. Analisis Wacana Kritis (CDA) melihat pemakaian bahasa tutur dan tulisan sebagai praktik sosial. Praktik sosial dalam CDA dipandang menyebabkan hubungan dialektis antara peristiwa diskursif tertentu dengan situasi, istitusi, dan struktur sosial. Konsep ini di pertegas oleh Fairclough dan Wodak yang melihat praktik wacana bias jadi menampilkan efek ideologis artinya wacana dapat memproduksi hubungan kekuasaan yang tidak imbang antara kelas sosial, laki-laki dan wanita, kelompok mayoritas dan minoritas dimana perbedaan itu direpresentasikan dalam praktik sosial. Lebih lanjut, Fairclough dan Wodak berpendapat bahwa analisis wacana kritis adalah bagaimana bahasa menyebabkan kelompok sosial yang ada bertarung dan mengajukan ideologinya masing-masing. Berikut disajikan karakteristik penting dari analisis kritis menurut mereka11 above: 1). Tindakan. Wacana dapat dipahami sebagai tindakan (actions) yaitu mengasosiasikan wacana sebagai bentuk interaksi. Sesorang berbicara, menulis, menggunakan bahasa untuk berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain. Wacana dalam prinsip ini, dipandang sebagai sesuatu yang betujuan apakah untuk mendebat, mempengaruhi, membujuk, menyangga, bereaksi dan sebagainya. Selain itu wacana dipahami sebagai sesuatu yang di ekspresikan secara sadar, terkontrol bukan sesuatu di luar kendali atau diekspresikan secara sadar. 2). Konteks. Analisis wacana kritis mempertimbangkan konteks dari wacana seperti latar, situasi, peristiwa dan kondisi. Wacana dipandang diproduksi dan di mengerti dan di analisis dalam konteks tertentu. Guy Cook menjelaskan bahwa analisis wacana memeriksa konteks dari komunikasi: siapa yang mengkomunikasikan dengan siapa dan mengapa; kahalayaknya, situasi apa, melalui medium apa, bagaimana, perbedaan tipe dan perkembangan komunikasi dan hubungan masing-masing pihak. Tiga hal sentaralnya adalah teks (semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak dilembar kertas, tetapi semua jenis ekspresi komunikasi). Konteks (memasukan semua jenis situasi dan hal yang berada dilar teks dan mempengaruhi pemakaian bahasa, situsai dimana teks itu diproduksi serta fungsi yang dimaksudkan). Wacana dimaknai sebagai konteks dan teks secara bersama. Titik perhatianya adalah analisis wacana menggambarkan teks dan konteks secara bersama-sama dalam proses komunikasi. 3). Historis, menempatkan wacana dalam konteks sosial tertentu dan tidak dapat dimengerti tanpa menyertakan konteks. 4). Kekuasaan. Analisis wacana kritis mempertimbangkan elemen kekuasaan. Wacana dalam bentuk teks, percakapan atau apa pun tidak di pandang sebagai sesuatu yang alamiah wajar dan netral tetapi merupakan bentuk pertarungan kekuasaan. Konsep kekuasaan yang dimaksudkan adalah salah satu kunci hubungan anatara wacana dan masyarakat. Ideologi adalah salah satu konsep sentral dalam analisis wacana kritis karena setiap bentuk teks, percakapan dan sebaginya adalah paraktik ideologi atau pancaran ideologi tertentu. Wacana bagi ideologi adalah meduim melalui mana kelompok dominan mempersuasai dan mengkomunikasikan kepada khalayak kekuasaan yang mereka miliki sehingga absah dan benar.Semua karakteristik penting dari analsis wacana kritis tentunya membutuhkan pola pendekatan analisis. Hal ini diperlukan untuk memberi penjelasan bagaimana wacana di kembangkan maupun mempengaruhi khalayak. Michael Foucault adalah salah satu pemikir yang mengembangkan teori wacana. Dalam studinya, Ia memperlihatkan bahwa manusia muncul karena susunan kata-kata dan benda yang diubah-ubah2. Lebih lanjut dijelaskan bahwa, sepenggal masa yang disebut modernitas ini menghasilkan susunan yang memberi tempat istimewa pada diri manusia yang sadar diri. Susunan yang dimaksudkan Foucault adalah keretakan hubungan subyek (kata-kata) dan obyek (benda-benda) yang karena suatu hal diutuhkan kembali. Suatu hal yang membuat keretakan hubungan subyek dan obyek di utuhkan kembali adalah kekuasaan dan kekuasaan itu diproduksi oleh wacana. Bagaimana wacana diproduksi, siapa yang memproduksi dan apa efek produksi wacana?. Yang bisa menjawab pertanyaan diatas adalah konsep wacana Michael Foucaault. Dalam konsepnya Foucault tidak memandang wacana sebagai serangkaian kata atau preposisi dalam teks tetapi memproduksi yang lain (sebuah gagasan, konsep atau efek)3. Wacana secara sistematis dalam ide, opini, konsep dan pandangan hidup di bentuk dalam konteks tertentu sehingga mempengaruhi cara berpikir dan bertindak. Salah satu konsep radikal Foucault adalah tentang hubungan pengetahuan dan kekuasaan. Tesis keras yang disampaikanya adalah bahwa ilmu-ilmu kemanusiaan merupakan perpaduan yang tidak terpisahkan dari pengtahuan dan kekuasaan. Dalam buku Dicipline and Punish (1976) “ dia memperlihatkan bagaimana jaman klasik dan moderen. Kelahiran penjara modern adalah penampilan kedaulatan negara memonopoli kekerasan atas warganya untuk melangengkan kekuasaan4. Pengetahuan adalah mesin kekuasaan dan di sebutnya sebagai “bio power” untuk membentuk individu-individu menjadi subyek-subyek yang menghasilkan pengetahuan untuk memantau diri atau disebut “teknik kehadiran” (techniques of self) dan manipulasi. Melalui wacana individu bukan hanya memantau dirinya tetapi juga dibentuk, dikontrol dan didisiplinkan. Misalnya pembagian kerja dalam rumah tangga. Pertanyaan selanjutnya yang penting untuk di jawab dalam CDA adalah bagaimana terbentuknya bangunan wacana? Studi analisis wacana seperti yang dijelaskan sebelumnya bukan sekedar mengenai pernyataan, tetapi juga struktur dan tata aturan wacana. Struktur analisis wacana tentunya tidak terlepas dari keterkaitan atau hubungan antara wacana dengan kenyataan. Kenyataan atau realitas dipahami sebagai seperangkat konstruksi sosial yang dibentuk melalui wacana. Dalam CDA, khususnya teori wacana Foucault hal ini disebut struktur diskursif. Struktur diskursif merupakan pandangan kita tentang suatu obyek yang dibentuk dalam batas-batas yang telah ditentukan. Batasan tersebut dicirikan oleh obyek, definisi dari prespektif yang paling dipercaya da dianggap benar. Presepsi kita terhadap suatu obyek dibentuk dan dibatasi oleh paraktik diskursif atau dibatasi oleh pandangan yang mendefinisikan sesuatu yang ini benar dan yang lainya salah. Konsekuensinya adalah bahwa pandangan tertentu membatasi pandangan khalayak dan mengarahkan pada jalan pikiran tertentu dan menghayati itu sebagi sesuatu yang benar5. Ciri lain yang tidak kala penting dalam pembacaan wacana Foucault adalah cirri utama wacana ialah kemampuanya untuk menjadi satu himpunan yang berfungsi membentuk dan melestarikan hubungan-hubungan kekuasaan dalam suatu masyarakat. Dalam suatu masyarakat biasanya terdapat berbagai macam wacana yang berbeda satu sama lain, namun kekuasaan memilih dan mendukung wacana tertentu sehingga wacana tersebut manjadi dominan , sedangkan wacana lain “terpinggirkan” (marginalized) atau “terpendam” (submerged) 6. Ada dua konsekuensi dari wacana dominant : pertama, wacana dominan memberikan arahan bagaimana subyek harus dibaca dan dipahami. Pandangan lebih luas menjadi terhalang karena yang diberikan adalah pilihan yang sudah paten dan siap pakai. Kedua, struktur diskursif yang tercipta atas suatu obyek tidak berarti kebenaran. Batasan yang tercipta tersebut hanya membatasi pandangan kita, tetapi juga menyebabkan wacana lain menjadi tidak domianan dan terpinggirkan. Proses terpingirkannya wacana membawa implikasi: pertama, khalayak tidak diberi kesempatan untuk mendapatkan informasi yang beragam dan berbagai sudut mengenai suatu peristiwa. Kedua, bisa jadi peminggiran wacana menunjukan praktik ideologi. Acap kali sesorang, kelompok, gagasan, tindakan, kegiatan terpinggirkan menjadi marjinal melalaui penciptaan wacana-wacana tertentu7. Teori wacana kritis yang kemukakan Foucault, secara metodologi analisis banyak di adopsi oleh Sara Mills. Mills menjadikan teori wacana Foucault sebagai ground teori untuk analisis wacana kritis. P endekatan wacana yang mengguanakan teori Foucault sebgai grounded disebut sebagai Analsis Wacana Pendekatan Prancis ( French Discourse Analysis). Sara Mills merupakan salah satu penganut dari teori ini. Walaupun lebih dikenal sebagai seorang feminis, metode anlisisnya sangat cocok untuk menggambarkan realasi kekuasaan dan ideologi yang dibahas dalam penelitian ini. Konsep dasar pemikiran Mills lebih melihat pada bagaimana aktor ditampilkan dalam teks. Posisi –posisi ini dalam arti siapa yang menjadi subyek penceritaan dan siapa yang menjadi obyek penceritaan akan manentukan bagaimana struktur teks dan bagaimana makna diperlakuakan dalam teks secara keseluruhan. Selain itu juga diperhatikan bagaimana pembaca dan penulis ditampilkan dalam teks. Bagaimana pembaca mengidentifikasikan dirinya dalam penceritaan teks. Ada dua konsep dasar yang di perhatikan8:Posisi Subyek – Obyek, menempatkan representasi sebagai bagian terpenting. Bagaimana satu pihak, kelompok, orang, gagasan,dan peristiwa ditampilkan dengan cara tertentu dalam wacana dan mempengaruhi pemaknaan khalayak. Penekananya adalah bagaimana poisisi dari aktor sosial, posisi gagasan, atau peristiwa ditempatkan dalam teks. Posisi pembaca dalam teks, menurut Mills sangat penting dan diperhitungkan karena pemabaca bukan semata-mata pihak yang hanya menerima teks, tetapi juga ikut melaksanakan transaksi sebagaimana akan terlibat dalam teks.
READ MORE - STUDI ANALISIS WACANA KRITIS

Selasa, 18 Mei 2010

Upaya Merumuskan Definisi Mengenai Komunikasi

Memahami Teori Komunikasi
Bagian ini membahas mengenai perkembangan studi komunikasi dari dulu hingga sekarang, pemikiran barat dan timur mengenai komunikasi dan perkembangan klasifikasi teori komunikasi termasuk pemikiran terbaru mengenai klasifikasi teori komunikasi berdasarkan pandangan Robert T. Craig yang seringkali disebut sebagai 'tradisi komunikasi' yang mencakup semiotika, fenomenologi, sibernetika, sosiopsikologi, sosiokultural, kritis dan retorika. Juga dibahas mengenai elemen-elemen dalam komunikasi yang mencakup komunikator, enkoding, pesan, saluran, dekoding, penerima pesan (receiver), umpan balik dan gangguan.
Komunikator
Beberapa pertanyaan penting yang akan dijawab pada bagian ini terkait dengan komunikasi intrapersonal yang berkenaan dengan ‘saya’ : Siapakah saya sebagai komunikator? Kemampuan apa yang saya miliki untuk berkomunikasi? Apa yang membedakan saya dengan komunikator lainnya? Bagaimana orang lain menilai tingkah laku saya? Bagaimana saya harus menyesuaikan diri dari satu situasi kepada situasi lainnya? Dalam bagian ini kita akan membahas bagaimana individu berkomunikasi dengan dirinya sendiri, kegiatan ini disebut dengan komunikasi intrapersonal. Kita akan membahas hal ini melalui beberapa sudut pandang sejumlah teori yang dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok teori. Kelompok teori yang paling mengemuka dalam hal ini adalah teori psikologi sosial (socialpsychology) namun kelompok teori lainnya juga membantu memperluas wawasan kita untuk memahami komunikasi intrapersonal termasuk diantaranya kelompok teori sibernetika, sosiokultural dan kritis.
P e s a n
Pada bagian ini kita akan membahas salah satu elemen penting dalam studi komunikasi yaitu teori mengenai tanda dan simbol, termasuk teori mengenai perilaku non-verbal. Kita juga akan melihat bagaimana pesan tercipta melalui percakapan, hal ini terkait dengan bagaimana orang berpikir sebelum bertindak. Dalam hal ini kita akan meninjau mengenai teori kumpulan tindakan. Teori lain yang tak kalah menariknya pada topik ini adalah mengenai pilihan strategi komunikasi yang mencakup teori mendapatkan kepatuhan, teori konstruktivisme, teori strategi kesopanan dan teori merancang pesan. Terkait dengan pesan ini maka kita perlu membahas teori logika dan interpretasi pesan dan teori makna semantik.
Percakapan
Apakah anda merasa cemas ketika bertemu dengan seseorang yang belum anda kenal, misalnya dalam suatu wawancara kerja. Rasa cemas dan tidak pasti kerap melanda kita dan orang berupaya untuk mengurangi rasa cemas dan ketidakpastian itu. Dalam hal ini kita akan meninjau pada teori mengelola ketidakpastian-kecemasan. Dalam percakapan, orang juga melakukan akomodasi dan adaptasi terhadap perilakuknya satu sama lain sehingga kita akan melihat pada teori akomodasi, adaptasi interaksi, pelanggaran harapan dan kebohongan. Interaksi adalah dasar percakapan sehingga kita perlu meninjau teori-teori tentang interaksi ini yang mencakup antara lain teori konvergensi simbolik dan teori analisa percakapan.
HUBUNGAN
Topik yang membahas hubungan atau relationship merupakan salah satu topik dalam ilmu komunikasi yang paling banyak menarik perhatian karena mengandung banyak sekali aspek menarik di dalamnya. Banyak orang tertarik dengan topik hubungan karena setiap hubungan memiliki dimensi yang sangat berbeda. Ada kalanya suatu hubungan terjalin dengan sangat mudah dan menyenangkan namun tidak jarang orang memiliki hubungan yang sulit sehingga hubungan itu tampak aneh dan tidak menarik. Hubungan merupakan topik yang menarik karena hubungan selalu berubah dan berkembang. Perubahan yang terjadi terkadang sangat dramatis sehingga berpengaruh terhadap hubungan anda dengan keluarga, teman atau hubungan romantis anda dengan seseorang. Banyak orang yang memiliki masalah ketika menjalin hubungan dengan orang lain, dan upaya kita mempelajari berbagai permasalahan dalam hubungan merupakan cara kita untuk mencari jawaban terhadap permasalahan itu. Hubungan merupakan topik yang sangat relevan bagi kita semua dan karenanya tidaklah mengherankan bidang ini mampu menyedot begitu banyak waktu dan perhatian para ahli komunikasi.
KOMUNIKASI ORGANISASI
Organisasi dibentuk melalui komunikasi ketika individu didalamnya saling berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan individu dan tujuan bersama. Proses komunikasi yang terjadi dalam organisasi menghasilkan berbagai hal seperti hubungan kewenangan, penciptaan peran dan jaringan komunikasi serta iklim organisasi. Organisasi menciptakan hasil atau keluaran (output) akibat adanya interaksi diantara individu dan kelompok dalam organisasi yang pada gilirannya mempengaruhi interaksi masa depan di dalam organisasi. Terdapat lima karakteristik organisasi yaitu bahwa: 1) organisasi diciptakan melalui komunikasi; 2) kegiatan organisasi berfungsi untuk mencapai tujuan individu dan tujuan bersama; 3) kegiatan komunikasi dalam organisasi menciptakan pola-pola yang mempengaruhi kehidupan organisasi; 4) proses komunikasi menciptakan karakter dan budaya organisasi; 5) pola kekuasaan dan pengawasan dalam komunikasi organisasi menghilangkan dan menciptakan hambatan.
READ MORE - Upaya Merumuskan Definisi Mengenai Komunikasi

Memahami Teori Komunikasi

Memahami Teori Komunikasi

Bagian ini membahas mengenai perkembangan studi komunikasi dari dulu hingga sekarang, pemikiran barat dan timur mengenai komunikasi dan perkembangan klasifikasi teori komunikasi termasuk pemikiran terbaru mengenai klasifikasi teori komunikasi berdasarkan pandangan Robert T. Craig yang seringkali disebut sebagai 'tradisi komunikasi' yang mencakup semiotika, fenomenologi, sibernetika, sosiopsikologi, sosiokultural, kritis dan retorika. Juga dibahas mengenai elemen-elemen dalam komunikasi yang mencakup komunikator, enkoding, pesan, saluran, dekoding, penerima pesan (receiver), umpan balik dan gangguan.
Komunikator
Beberapa pertanyaan penting yang akan dijawab pada bagian ini terkait dengan komunikasi intrapersonal yang berkenaan dengan ‘saya’ : Siapakah saya sebagai komunikator? Kemampuan apa yang saya miliki untuk berkomunikasi? Apa yang membedakan saya dengan komunikator lainnya? Bagaimana orang lain menilai tingkah laku saya? Bagaimana saya harus menyesuaikan diri dari satu situasi kepada situasi lainnya? Dalam bagian ini kita akan membahas bagaimana individu berkomunikasi dengan dirinya sendiri, kegiatan ini disebut dengan komunikasi intrapersonal. Kita akan membahas hal ini melalui beberapa sudut pandang sejumlah teori yang dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok teori. Kelompok teori yang paling mengemuka dalam hal ini adalah teori psikologi sosial (socialpsychology) namun kelompok teori lainnya juga membantu memperluas wawasan kita untuk memahami komunikasi intrapersonal termasuk diantaranya kelompok teori sibernetika, sosiokultural dan kritis.

P e s a n

Pada bagian ini kita akan membahas salah satu elemen penting dalam studi komunikasi yaitu teori mengenai tanda dan simbol, termasuk teori mengenai perilaku non-verbal. Kita juga akan melihat bagaimana pesan tercipta melalui percakapan, hal ini terkait dengan bagaimana orang berpikir sebelum bertindak. Dalam hal ini kita akan meninjau mengenai teori kumpulan tindakan. Teori lain yang tak kalah menariknya pada topik ini adalah mengenai pilihan strategi komunikasi yang mencakup teori mendapatkan kepatuhan, teori konstruktivisme, teori strategi kesopanan dan teori merancang pesan. Terkait dengan pesan ini maka kita perlu membahas teori logika dan interpretasi pesan dan teori makna semantik.

Percakapan

Apakah anda merasa cemas ketika bertemu dengan seseorang yang belum anda kenal, misalnya dalam suatu wawancara kerja. Rasa cemas dan tidak pasti kerap melanda kita dan orang berupaya untuk mengurangi rasa cemas dan ketidakpastian itu. Dalam hal ini kita akan meninjau pada teori mengelola ketidakpastian-kecemasan. Dalam percakapan, orang juga melakukan akomodasi dan adaptasi terhadap perilakuknya satu sama lain sehingga kita akan melihat pada teori akomodasi, adaptasi interaksi, pelanggaran harapan dan kebohongan. Interaksi adalah dasar percakapan sehingga kita perlu meninjau teori-teori tentang interaksi ini yang mencakup antara lain teori konvergensi simbolik dan teori analisa percakapan.

HUBUNGAN

Topik yang membahas hubungan atau relationship merupakan salah satu topik dalam ilmu komunikasi yang paling banyak menarik perhatian karena mengandung banyak sekali aspek menarik di dalamnya. Banyak orang tertarik dengan topik hubungan karena setiap hubungan memiliki dimensi yang sangat berbeda. Ada kalanya suatu hubungan terjalin dengan sangat mudah dan menyenangkan namun tidak jarang orang memiliki hubungan yang sulit sehingga hubungan itu tampak aneh dan tidak menarik. Hubungan merupakan topik yang menarik karena hubungan selalu berubah dan berkembang. Perubahan yang terjadi terkadang sangat dramatis sehingga berpengaruh terhadap hubungan anda dengan keluarga, teman atau hubungan romantis anda dengan seseorang. Banyak orang yang memiliki masalah ketika menjalin hubungan dengan orang lain, dan upaya kita mempelajari berbagai permasalahan dalam hubungan merupakan cara kita untuk mencari jawaban terhadap permasalahan itu. Hubungan merupakan topik yang sangat relevan bagi kita semua dan karenanya tidaklah mengherankan bidang ini mampu menyedot begitu banyak waktu dan perhatian para ahli komunikasi.

KOMUNIKASI ORGANISASI

Organisasi dibentuk melalui komunikasi ketika individu didalamnya saling berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan individu dan tujuan bersama. Proses komunikasi yang terjadi dalam organisasi menghasilkan berbagai hal seperti hubungan kewenangan, penciptaan peran dan jaringan komunikasi serta iklim organisasi. Organisasi menciptakan hasil atau keluaran (output) akibat adanya interaksi diantara individu dan kelompok dalam organisasi yang pada gilirannya mempengaruhi interaksi masa depan di dalam organisasi. Terdapat lima karakteristik organisasi yaitu bahwa: 1) organisasi diciptakan melalui komunikasi; 2) kegiatan organisasi berfungsi untuk mencapai tujuan individu dan tujuan bersama; 3) kegiatan komunikasi dalam organisasi menciptakan pola-pola yang mempengaruhi kehidupan organisasi; 4) proses komunikasi menciptakan karakter dan budaya organisasi; 5) pola kekuasaan dan pengawasan dalam komunikasi organisasi menghilangkan dan menciptakan hambatan.
READ MORE - Memahami Teori Komunikasi

Selasa, 11 Mei 2010

BE POSITIVE THINKING IN YOUR LIFE

Pernahkah anda mengalami krisis kepercayaan diri atau dalam bahasa sehari-hari "TTIDAK PEDE" dalam menghadapi suatu situasi atau persoalan? Saya yakin anda pernah dan hampir setiap orang pernah mengalami krisis kepercayaan diri dalam rentang kehidupannya, sejak masih anak-anak hingga dewasa bahkan sampai usia lanjut. hilangnya rasa pede tentu menjadi sesuatu yg sangat mengganggu,tlebih ketika dihadapkan pada tantangan atau pun situasi baru. Ada yang berkata: "kok saya tidak seperti dia,...yang selalu percaya diri...rasanya selalu saja ada yang kurang dari diri saya...saya malu menjadi diri saya!?

Berikut hal yang dapat kamu "pikirkan" tentang perbedaan orang yang percaya diri dan tidak percaya diri... tapi ingat men jangan sampai percaya dirinya berlebihan... bisa-bisa anda mencintai diri anda dengan sangat teramat berlebihan (narsisme) dampaknya ya ga begitu berat paling-paling gila.... hehe....

Karakteristik atau ciri-ciri Individu yang percaya diri
Beberapa ciri atau karakteristik individu yang mempunyai rasa percaya diri yang proporsional, diantaranya adalah :
? Percaya akan kompetensi/kemampuan diri, hingga tidak membutuhkan pujian, pengakuan, penerimaan, atau pun rasa hormat orang lain
? Tidak terdorong untuk menunjukkan sikap konformis demi diterima oleh orang lain atau kelompok
? Berani menerima dan menghadapi penolakan orang lain ? berani menjadi diri sendiri
? Punya pengendalian diri yang baik (tidak moody dan emosinya stabil)
? Memiliki internal locus of control (memandang keberhasilan atau kegagalan, tergantung dari usaha diri sendiri dan tidak mudah menyerah pada nasib atau keadaan serta tidak tergantung/mengharapkan bantuan orang lain)
? Mempunyai cara pandang yang positif terhadap diri sendiri, orang lain dan situasi di luar dirinya
Memiliki harapan yang realistik terhadap diri sendiri, sehingga ketika harapan itu tidak terwujud, ia tetap mampu melihat sisi positif dirinya dan situasi yang terjadi.

Karakteristik atau ciri-ciri Individu yang kurang percaya diri
Beberapa ciri atau karakteristik individu yang kurang percaya diri, diantaranya adalah:

? Berusaha menunjukkan sikap konformis, semata-mata demi mendapatkan pengakuan dan penerimaan kelompok
? Menyimpan rasa takut/kekhawatiran terhadap penolakan
? Sulit menerima realita diri (terlebih menerima kekurangan dir) dan memandang rendah kemampuan diri sendiri ? namun di lain pihak memasang harapan yang tidak realistik terhadap diri sendiri
? Pesimis, mudah menilai segala sesuatu dari sisi negatif
? Takut gagal, sehingga menghindari segala resiko dan tidak berani memasang target untuk berhasil
? Cenderung menolak pujian yang ditujukan secara tulus (karena undervalue diri sendiri)
? Selalu menempatkan/memposisikan diri sebagai yang terakhir, karena menilai dirinya tidak mampu
Mempunyai external locus of control (mudah menyerah pada nasib, sangattergantung pada keadaan dan pengakuan/penerimaan serta bantuan orang lain)


Pola Pikir Negatif
Pola pikir individu yang kurang percaya diri, bercirikan antara lain:
? Menekankan keharusan-keharusan pada diri sendiri (?saya harus bisa begini...saya harus bisa begitu?). Ketika gagal, individu tersebut merasa seluruh hidup dan masa depannya hancur.
? Cara berpikir totalitas dan dualisme : ?kalau saya sampai gagal, berarti saya memang jelek?
? Pesimistik yang futuristik : satu saja kegagalan kecil, individu tersebut sudah merasa tidak akan berhasil meraih cita-citanya di masa depan. Misalnya, mendapat nilai C pada salah satu mata kuliah, langsung berpikir dirinya tidak akan lulus sarjana.
? Tidak kritis dan selektif terhadap self-criticism : suka mengkritik diri sendiri dan percaya bahwa dirinya memang pantas dikritik.
? Labeling : mudah menyalahkan diri sendiri dan memberikan sebutan-sebutan negatif, seperti ?saya memang bodoh?...?saya ditakdirkan untuk jadi orang susah?, dsb....
? Sulit menerima pujian atau pun hal-hal positif dari orang lain : ketika orang memuji secara tulus, individu langsung merasa tidak enak dan menolak mentah-mentah pujiannya. Ketika diberi kesempatan dan kepercayaan untuk menerima tugas atau peran yang penting, individu tersebut langsung menolak dengan alasan tidak pantas dan tidak layak untuk menerimanya.
Suka mengecilkan arti keberhasilan diri sendiri : senang mengingat dan bahkan membesar-besarkan kesalahan yang dibuat, namun mengecilkan keberhasilan yang pernah diraih. Satu kesalahan kecil, membuat individu langsung merasa menjadi orang tidak berguna.

Ciri orang yang berpikir positif (Pola pikir Positif)
? Melihat masalah sebagai tantangan
? Menikmati hidupnya
? Pikiran terbuka untuk menerima saran ?n ide
? Menghilangkan pikiran negatif segera setelah pikiran itu terlintas dalam benak
? Mensyukuri yang di miliki
? Tidak mendengarkan gossip yang tak menentu
? Tidak bikin ALASAN tapi langsung bikin TINDAKAN
? Menggunakan bahasa yang positif
? Menggunakan bahasa tubuh yang positif
? Peduli pada citra diri.
READ MORE - BE POSITIVE THINKING IN YOUR LIFE

Kamis, 29 April 2010

kerangka proses,menurut Ryan dan Peterson


LIMA KERANGKA PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM SENI MEDIA
(PUSAT PERHATIAN,TERUTAMA PADA INDUSTRI MUSIK)



Menurut Ryan dan Peterson (1982) :


1. Model lini perakitan (assembly line)


Dalam model ini proses yang digunakan sama dengan cara pembuatan produk industri,beserta segenap keterampilan dan keputusan yang terkait dalam mekanisme proses tersebut.Semua itu tercangkup dalam aturan prosedur yang jelas.Karena produk budaya media,tentu saja berbeda dengan material,harus berbeda antara satu sama lainnya secara marjinal,maka hal ini mengakibatkan timbulnya produksi berlebihan (over production) pada setiap tahap.


2. Model keterampilan dan kewiraswastaan (craft and entrepreneurship)


Pada model ini beberapa orang yang kuat,yang memiliki reputasi mapan dalam menilai kemampuan dan menangani masalah,mengelolah segenap masukan para seniman,musikus,ahli teknik dan lainnya secara inovatif.Model seperti ini berlaku terutama diperusahaan film,tetapi juga cocok untuk perusahaan penerbitan yang para penyuntingnya merupakan tokoh kuat dan memiliki kewibawaan (Kharisma).


3. Model konvensi dan formula (convention and formula)


Dalam model ini para anggota ‘dunia seni’ tertentu menyepakati suatu ‘resep’,yakni seperangkat prinsip yang berlaku luas dan mengandung pengarahan bagi para pekerja tentang cara menyatukan berbagai unsur untuk memproduksi karya dalam gaya tertentu.


4. Model citra khalayak dan konflik (audience image and conflict)


Kerangka pandangan model ini menilai proses produksi kreatif sebagai upaya menyelaraskan produksi dengan citra yang akan disenangi khalayak.Keputusan menyangkut citra itulah yang sangat penting dan dapat menimbulkan konflik dikalangan wiraswastawan kuat yang saling bersaing.


5. Model citra produk (produk image)


Penciptaan citra produk adalah pembuatan karya yang memiliki kemungkinan terbesar untuk diterima oleh para pengambil keputusan pada tahap selanjutnya.Cara yang paling sering ditempuh ialah memproduksi karya yang sangat mirip dengan karya yang baru saja lolos dari penilaian para pengambil keputusan pada setiap tahap proses.Produk seperti itu secara komersial dianggap berhasil.


Konsep dasar diatas tidaklah harus disepakati oleh segenap unsur yang terlibat,atau harus disesuaikan dengan selera wirawastawan dan citra khalayak.Model ini merupakan model yang memberi tuntutan kepada para penerbit mapan dan BBC,menurut Ryan dan Peterson.Model tersebut juga merupakan model yang paling sesuai dengan konsep profesionalisme dalam pengertian pengetahuan khusus tentang karya yang baik’televisi yang baik’ atau ‘jurnalisme yang baik’,bukannya pengetahuan khusus tentang karya yang berhasil secara komersial.

READ MORE - kerangka proses,menurut Ryan dan Peterson