Selasa, 25 Mei 2010

MAHZAB ILMU KOMUNIKASI

Sebagaimana penuturan Prof. Nasikun, llmu sosial dapat memiliki tiga fungsi : decision making, social critics, dan advocacy. Dalam kontek ini menjadi penting.(ttg ilmu sosial..)

Kajian kritis

Dalam kontek kajian komunikasi hal ini dapat dijumpai melalui karya-karya Stanley Deetz, Noam Chomsky, Cherney, Ben Bagdikian, Herbert Schiller.

Kajian Interpretatif

interpretative melalui Cliffort Geertz, James Lull, Pacanoski, dan sebagainya.

ANTARA TRADISI BARAT, ASIA, DAN AKAR KAJIAN KOMUNIKASI DI INDONESIA

Terdapat tiga hal penting yang penting untuk dipahami kaitannya dengan mempelajari teori komunikasi. Yakni antara tradisi Amerika, Eropa, dan Asia.

Tradisi Amerika

Tradisi Amerika sangat menonjol perspektif yang positivistic1 semenjak decade 40-an. Demikian pula pengaruh filsafat pragmatis yang dominant di Amerika sehingga dalam perkembangan teori kurang begitu filosofis.

Dominannya pendekatan positivistic empiris sangat menonjol sejak decade 40-an. Terutama pada masa propaganda yang mempercayai dampak kuat media.2 Kemudian berkembang terus sampai masa sesudah perang. Ini pula yang kemudian membentuk arus besar dalam kajian komunikasi Amerika dimana penelitian yang bercorak administrative lebih menonjol.

Padahal akar kajian komunikasi di Amerika sesungguhnya pada awalnya cukup humanistic, Sebagaimana tampak melalui kelompok Chicago dengan figure seperti John Dewey, George H. Mead. dan Robert E. Park. Dewey dan Park memberi perhatian terhadap arti penting suratkabar bagi kehidupan komunitas. Sedangkan interaksi simbolik Mead menjadi penting dalam kontek komunikasi antar personal.

Dewasa ini tradisi kritis juga tampak di Amerika seperti kemunculan C.W. Mills pada decade 50-an yang dipandang sebagai peletak dasar-dasar kajian kritis. Mills berinteraksi langsung dengan kalangan pelarian Frankurt School yang ada di New York. Dewasa ini semangatnya dapat dilihat dalam pemikiran figure seperti Herbert Schiller, Ben Bagdikian, Noam Chomsky, atau Robert Chesney. Orientasi aliran kritis adalah emansipatoris.

Tradisi Eropa

Ilmu Sosial di Eropa lebih filosofis atau rasionalis. Bisa juga dikatakan cenderung idealis. Maka teori-teori yang normative terasa dari tradisi Eropa. Terutama pula yang berangkat dari pemikiran kritis karena pemikiran Marxist mengakar kuat. Maka kecenderungan teori komunikasi dari tradisi Eropa dapat dijumpai melalui tradisi kritis.

Namun berkat interaksi keilmuan, di Eropa juga dikembangkan pendekatan empiris, sebagaimana di Amerika pendekatan kritis juga dianut. Kajian empiris memberi perhatian terhadap individu sedangkan kajian kritis memberi perhatian terhadap aspek yang lebih luas yakni relasi antar institusi social pada tingkat makro. Misalnya pada fenomena Josepht Klepper tentang The Effect of Communications.

Secara umum, tradisi Amerika dan Eropa dapat disebut sebagai tradisi Barat. Maka ciri teori komunikasi dari Barat adalah menempatkan individu dalam posisi yang penting. Paham liberalisme dapat dimengerti dalam kontek ini. Karenanya penelitian-penelitian yang menempatkan individu sebagai titik pusat menjadi penting. Dalam tradisi psikologi social dapat dimengerti dalam kontek ini. Penelitian yang dilakukan Hovland dan Lazarfeld berada dalam kontek ini. Tentunya disini pandangan Barat dalam kontek empirisme.

Ciri lain, teori Barat bersifat parsial. Melihat dari sudut tertentu. Sehingga reduksi tampak jelas. Pandangan yang terbagi kedalam sejumlah perspektif berada dalam kontek ini. Misalkan tradisi kritis mereduksi realitas kedalam struktur yang kuat dan yang lemah. Pemikiran semacam ini pula yang kemudian menjadi sasaran kritik kalangan cultural studies yang dipengaruhi neo Marxist dimana lebih melihat kompleksitas realitas social.

Tradisi Timur

Dalam tradisi timur, manusia tidak dipusatkan sebagai individu namun secara kolektif.

Kemudian juga bersifat keseluruhan daripada parsial. Misalnya dalam melihat tentang manusia juga dihubungkan dengan alam. Hubungan yang harmonis manusia dengan alam merupakan satu kesatuan dalam melihat realitas.

Demikian pula, di Timur masalah emosi menjadi penting. Karenanya di Timur pesan non verbal menjadi penting.4 Untuk memahami suatu makna orang harus menggunakan perasaan yang mendalam. Bandingkan dengan di Barat yang rasional, orang cenderung untuk secara verbal (to the point).

Majid Tehranian—pemikir komunikasi Amerika keturunan Iran--mengusulkan paradigma komunitarian, yang mengedepankan tampilnya kalangan pemimpin komunitas, yang tampaknya cukup signfikan di timur.

Maka penting pula untuk memahami pembagian perspektif berdasarkan benua ini. Sehingga perspektif kita menjadi lebih utuh. Misalnya perspektif Timur disebut seperti dari tradisi Budha, Hindu, Tao, Islam. (tradisi as, eropa, asia..)

Tradisi Postmodernisme

Lawrence Neumann menyebut paradigma postmodernisme sebagai paradigma yang sedang berproses setelah tiga paradigma yang telah ada yakni positivistik, interpretatif, dan kritis (lihat Neumann, ). Maka relevan pula untuk memasukan paradigma postmodernisme ini dalam kontek kajian ilmu komunikasi, yang tidak dapat melepaskan diri dari perkembangan ilmu sosial yang telah ada.

Sebenarnya hal ini terakomodir dalam beberapa konsep yang dikenalkan melalui beberapa figur seperti John Fiske, Roland Barthes, Michael Foucault, Raymond William, Stuart Hall, Jean Boudrillard, dan sebagainya. Mereka yang dikenal menyuarakan tentang cultural studies atau apa yang disebut juga kalangan post strukturalis. (lihat littlejohn, 2002). Lebih jauh, figur-figur seperti Jean Boudrillard juga tepat untuk dimasukan disini. 5

Asumsi pokok dalam postmodernisme adalah paham relativisme. Realitas merupakan sesuatu yang sedang berproses. Senantiasa terjadi proses pengkonstruksian terhadap realitas. Terdapat banyak kalangan yang terlibat dalam proses pengkonstruksian realitas ini.6 (--karenanya pandangan strukturalisme, cara berfikir oposisi biner, sesuatu yang ditolak oleh postmodernisme. 25/3/5)7

Tema-tema seperti masyarakat konsumen, hiper realitas, budaya popular, menjadi penting. Media memegang peranan penting dalam proses ini. Postmodernisme memberi perhatian terhadap fenomena wacana. Dalam kontek ini fenomena symbol menjadi penting. Hal ini berkaitan dengan tema masyarakat informasi, fenomena yang menjadi latar belakang kemunculan postmodernisme. Terdapat banyak fenomena symbol dalam masa masyarakat informasi.(tradisi posmo)

Terdapat sejumlah pengertian tentang pengelompokkan (perspektif teori komunikasi seperti covering law perspective, rule theory, dan pendekatan sistem , dan lainnya). Namun sekali lagi, secara umum dapat dikelompokkan ke dalam perspektif atau paradigma yang telah ada.

Pendekatan Covering Law menekankan pada hubungan sebab akibat dalam komunikasi. Rule governed menekankan pengaruh kebebasan dan pilihan individual. Sedangkan sistem menekankan interaksi, interdependensi, dan koordinasi dari tingkah laku diantara individu.

Robert Craig mencoba menyebut adanya tujuh tradisi dalam kajian komunikasi (2002) yaitu semiotik, retorika, kritis, psikologi sosial, cybernetik, sosial budaya, dan fenomenologi.

Tradisi Semiotik

Tradisi semiotik berakar dari bahasa. Dalam buku Tankard disebut beberapa istilah seperti semantic differential, hakekat simbol. Sedangkan dalam Littlejohn disebut secara lebih rinci landasan teoritis dari kalangan ahli linguistik seperti Ferdinand de Saussure, Charles S. Pearce, Noam Chomsky, Benjamin Whorlf, Roland Barthes, dan lainnya. Mencoba membahas tentang hakekat simbol. Selanjutnya dalam John Fiske (1980) tentang pembahasan seputar ini dengan mengurainkan aspek seperti icon, index, dan symbol menurut Pearce.

Jadi terdapat banyak teori komunikasi yang berangkat dari pembahasan seputar simbol. Keberadaan simbol menjadi penting dalam menjelaskan fenomena komunikasi. Simbol merupakan produk budaya suatu masyarakat untuk mengungkapkan ide-ide, makna, dan nilai-nilai yang ada pada diri mereka. Mengkaji aspek ini merupakan aspek yang penting dalam memahami komunikasi.

Dalam kajian kontemporer, dalam hal ini pendekatan postmodernisme-poststrukturalisme, yang banyak menekankan pada kajian seputar simbol atau yang populer tentang analisis wacana. Maka pendekatan dari sudut ini menjadi penting. Jadi teori-teori komunikasi yang berangkat dari tradisi semiotik menjadi bagian yang penting untuk menjadi perhatian. Analisis-analisis tentang iklan, novel, sinetron, film, lirik lagu, video klip, fotografi, dan semacamnya menjadi penting. Terlebih dengan perkembangan industri media di Indonesia dewasa ini, kajian seputar ini menjadi penting untuk mendapat perhatian. Contoh kasus : bila anda seorang cameraman televise, suatu ketika anda meliput di Aceh. Maka dengan pemahaman tradisi semiotic yang memadai, akan membantu untuk menbari icon yang tepat. Misalnya ambil gambar masjid Baiturahman. Bila anda meliputi di kota Surabaya untuk stasiun televise asing, maka anda akan menyertakan menampilkan icon Tugu Pahlawan atau patung Sura lan Baya. Kasus yang kurang lebih sama juga akan terjadi ketika anda bekerja sebagai bagian kreatif sebuah biro iklan. Pemahaman yang memadai tentang dunia symbol akan banyak membantu dalam merancang desain iklan yang tepat. Fenomena iklan-iklan sampoerna bias dijelaskan dalam kontek ini. Kepekaan perancang dengan situasi social di Indonesia salah satu yang dpat disebutkan.

Maka pemahaman akan tradisi semiotic akan penting. Misalkan bagi yang berminat di iklan, dengan wawasan semiotic akan dapat merancang konsep yang tepat. Kehandalan dalam memilih symbol dan semacamnya. Mereka akan mampu menyampaikan makna secara memadai.

Tradisi Psikologi Sosial

Berangkat dari Ilmu Psikologi terutama aliran behavioral. Dalam kajian komunikasi akan sering dijumpai dalam kajian tentang dampak media. Memberi perhatian pada perubahan sikap (attitude). Hubungan media dan khalayak tentunya akan menyebabkan terjadinya perubahan sikap. Media menjadi stimulus dari luar diri khalayak yang akan menyebabkan terjadinya perubahan sikap.

Kasus lain seperti komunikasi persuasi. Pengaruh komunikator terhadap perubahan sikap khalayak. Penelitian eksperimen yang dilakukan Carl Hovland menggunakan pendekatan eksperimen. Sementara Paul F. Lazarfeld lebih menggunakan penelitian survei.

Tradisi psikologi sosial juga dapat dijumpai dalam penelitian komunikasi antar budaya seperti yang menggunakan teori yang dikembangkan Guddykunt tentang Management Reduction Uncertainty Theory.

Psikologi Sosial memberi perhatian akan pentingnya interaksi yang mempengaruhi proses mental dalam diri individu. Aktivitas komunikasi merupakan salah satu fenomena psikologi sosial seperti pengaruh media massa, propaganda, atau komunikasi antar personal lain.

Teori-teori yang berangkat dari psikologi sosial ini juga dapat menjelaskan tentang proses-proses yang berlangsung dalam diri manusia dalam proses komunikasi yakni ketika proses membuat pesan dan proses memahami pesan. Manusia dalam proses menghasilkan pesan melibatkan proses yang berlangsung secara internal dalam diri manusia seperti proses berfikir, pembuatan keputusan, sampai dengan proses menggunakan simbol. Demikian pula dalam proses memahami pesan yang diterima, manusia juga menggunakan proses psikologis seperti berfikir, memahami, menggunakan ingatan jangka pendek dan panjang hingga membuat suatu pemaknaan.

Pendekatan psikologi sosial memberi perhatian terhadap aspek diri manusia. Proses komunikasi manusia merupakan proses yang berlangsung dalam diri manusia.

Selanjutnya dalam komunikasi antar personal juga akan banyak dijelaskan dengan teori-teori dari tradisi psikologi sosial. Misalkan manusia dalam membuat suatu pesan dilatari faktor-faktor tertentu seperti motif, kebutuhan, dan sebagainya. Demikian pula terlibatnya faktor prasangka, stereotype, skema pemikiran, dan sebagainya yang mempengaruhi dalam komunikasi antar personal. Beberapa konsep penting disini dapat disebutkan seperti judgement, prejudice, anxienty, dan sebagainya. (lihat dalam littlejohn).

Beberapa tokoh penting dalam tradisi ini adalah Carl Hovland, Paul F. Lazarfeld, Muzerief, dan sebagainya.

Tradisi Retorika

Tradisi retorika memberi perhatian pada aspek proses pembuatan pesan atau simbol. Prinsip utama disini adalah bagaimana menggunakan simbol yang tepat dalam menyampaikan maksud. Dalam media berkaitan dengan proses pembuatan kebijakan keredaksian, merancang program acara, penentuan grafis. Prinsip bahwa pesan yang tepat akan dapat mencapai maksud komunikator. Kemampuan dalam merancang pesan yang memadai menjadi perhatian yang penting dalam kajian komunikasi.

Beberapa figur yang dapat disebutkan disini adalah kajian-kajian Gaye Tuchman tentang proses penentuan kebijakan dalam ruang pemberitaan, McBreed yang mengkaji tentang proses-proses yang berlangsung dalam organisasi media. Demikian pula teori-teori yang berkaitan dengan proses pembuatan pesan (message production) (lihat lagi littlejohn).

Tradisi retorika dapat menjelaskan baik dalam kontek komunikasi antar personal maupun komunikasi massa. Sepanjang memberi perhatian terhadap bagaimana proses-proses merancang isi pesan yang memadai sehingga proses komunikasi dapat berlangsung secara efektif.

Faktor-faktor nilai, ideologi, budaya, dan sebagainya yang hidup dalam suatu organisasi media atau dalam diri individu merupakan faktor yang menentukan dalam proses pembuatan pesan. Bahwa pesan dihasilkan melalui proses yang melibatkan nilai-nilai, kepentingan, pandangan hidup tertentu dari manusia yang menghasilkan pesan.

Pemahaman yang memadai dari tradisi retorika ini akan membantu dalam memahami bagaimana merancang suatu pesan yang efektif.9 Keberhasilan suatu konsep iklan, program televisi, kampanye tokoh politik, tentunya tidak dapat dilepaskan dari faktor semacam ini.

Keberhasilan SBY dipercaya tidak terlepas dari kemampuan merancang citra yang menarik. Iklan Sampoerna tentunya dilatari kemampuan melakukan perencanaan pesan yang memadai. Demikian pula pada sejumlah stasiun televisi yang masing-masing memiliki keunggulan berangkat dari proses perencanaan program yang memadai. Kita dapat membedakan karakteri RCTI, Metro TV, Trans TV, SCTV, TPI, AN TV, Indosiar, TV7, Lativi, dan Global TV karena masing-masing memiliki karakter. Maka tradisi retorika sesungguhnya berada dalam kontek ini.

Fenomena ‘pembajakan’ para programer televisi di Indonesia dapat dipahami dalam kontek ini. Mereka dibutuhkan sehingga pindah-pindah kerja antar stasiun televisi seakan menjadi sesuatu yang muda. Fenomena Alex Kumara dari RCTI, Trans TV, dan sekarang di TVRI. Figur ini dipandang sukses dalam mendisain tayangan suatu stasiun televisi. Demikian pula Riza Primbadi atau Sumitha Tobing yang beberapa kali pindah stasiun. Kerja kreatif yang melatarinya menyebabkan mahalnya tenaga yang berkiprah dibidang ini. Figur lain yang bisa disebut Uni Lubis yang sukses dengan Panji Masyarakat dan sekarang di TV7. Demikian pula Noorca Massardi yang merintis Jakarta Jakarta yang dulu pernah di Tempo dan sekarang di Forum. Dja’far Assegraf, Toety Adhitama, merupakan nama lain yang bisa disebut yang sekarang berkumpul di Media Group.

Tradisi Sosial Budaya

Tradisi sosial budaya berangkat dari kajian antropologi. Bahwa komunikasi berlangsung dalam kontek budaya tertentu karenanya komunikasi dipengaruhi dan mempengaruhi kebudayaan suatu masyarakat. Konsep kebudayaan yang dirumuskan Clifford Geertz tentu saja menjadi penting. Media massa, atau individu ketika melakukan aktivitas komunikasi ikut ditentukan faktor-faktor situasional tertentu.

Beberapa figur penting disini adalah James Lull, Geertz, Erving Goffman, George H. Mead, dan sebagainya.

Pendekatan interaksi simbolik, konstruktivisme merupakan hal yang penting disini. Interaksi simbolik menekankan pada bagaimana manusia aktif melakukan pemaknaan terhadap realitas yang dihadapi. Hal ini dapat membantu menjelaskan dalam proses komunikasi antar personal. Sedangkan konstruktivisme menekankan pada proses pembentukan realitas secara simbolik. Maka komunikasi baik bermedia maupun antar pribadi sesungguhnya dapat dilihat sebagai proses pembentukan realitas.

Tradisi Fenomenologi

Inti tradisi fenomenologi adalah mengamati kehidupan dalam keseharian dalam suasana yang alamiah. Tradisi fenomenologi dapat menjelaskan tentang khalayak dalam berinteraksi dengan media. Demikian pula bagaimana proses yang berlangsung dalam diri khalayak. Beberapa figur penting disini adalah James Lull, Ien Ang, dan sebagainya.

Kajian tentang proses resepti (reception studies) yang berlangsung dalam diri khalayak menjadi penting. Misalnya bagaimana para penonton televise ketika mengalami sebuah tayangan. Maka proses resepsi sangat ditentukan oleh factor nilai-nilai yang hidup dalam diri khalayak tersebut. Pendekatan etnografi komunikasi menjadi penting diterapkan dalam tradisi ini.


Tradisi Cybernetik

Tradisi ini berkaitan dengan proses pembuatan keputusan. Tradisi cybernetik berangkat dari teori sistim yang memandang terdapatnya suatu hubungan yang saling menggantungkan dalam unsur atau komponen yang ada dalam sistim. Hal lain yang penting adalah sistim dipahami sebagai suatu sistim yang bersifat terbuka sehingga perkembangan dan dinamika yang terjadi dilingkungan akan diproses didalam internal sistim.

Teori informasi berada dalam kontek ini. Demikian pula konsep feedback menjadi penting dalam hal ini. Perkembangannya dapat pula disebut teori-teori yang dikembangkan dari teori informasi seperti yang dilakukan Charles Berger untuk komunikasi antar personal dan Guddykunt untuk komunikasi antar budaya.

Contoh lain adalah proses pembuatan kebijakan publik oleh lembaga pemerintahan dimana tradisi cybernetic dapat menjelaskan. Terdapat proses sosialisasi untuk mendapatkan feedback dari publik sebelum suatu kebijakan ditetapkan secara permanen.

Tentu saja teori-teori proses pembuatan keputusan didalam diri individu juga dapat dijelaskan dari tradisi cybernetik. Tidak bisa dipungkiri tradisi cybernetic yang berangkat dari Norbert Wiener ini dan dikombinasikan dengan Shannon – Wiever menjadi penting sebagai salah satu tradisi dalam kajian komunikasi. Demikian pula proses resepti terhadap pesan yang berlangsung dalam diri khalayak. Pada hakekatnya khalayak merupakan sebuah sistim, maka sebuah pesan yang diterima dari luar merupakan stimulus yang kemudian diolah lagi dengan informasi lain yang sudah ada dalam diri seseorang.

Beberapa figur penting disini adalah Wiener, Shannon-Weaver, Charles Berger, Guddykunts, Karl Deutch, dan sebagainya.

Tradisi Kritis

Tradisi ini berangkat dari asumi teori-teori kritis yang memperhatikan terdapatnya kesenjangan di dalam masyarakat. Proses komunikasi dilihat dari sudut kritis. Bahwa komunikasi disatu sisi telah ditandai dengan proses dominasi oleh kelompok yang kuat atas kelompok masyarakat yang lemah. Pada sisi lain, aktifitas komunikasi mestinya menjadi proses artikulasi bagi kepentingan kelompok masyarakat yang lemah.

Tradisi ini dapat menjelaskan baik lingkup komunikasi antar personal maupun komunikasi bermedia. Beberapa figur penting dapat disebut seperti Noam Chomsky, Herbert Schiller, Ben Bagdikian, C. Wright Mills, dan sebagainya yang pemikiran mereka menyoroti tentang media sementara Stanley Deetz diantaranya pada komunikasi organisasi. Demikian pula Jurgen Habermas untuk tema-tema kajian komunikasi social.

Beberapa buku seperti political economy of media oleh Vincent Mosco dan sebagainya.

Tradisi ini tampak kental dengan pembelaan terhadap kalangan yang lemah. Komunikasi diharapkan berperan dalam proses transformasi masyarakat yang lemah.

Tampaklah bahwa ketujuh tradisi diatas cukup mewakili tentang fenomena komunikasi. Melalui ketujuh tradisi ini dapat dijelaskan mengenai suatu fenomena komunikasi dengan masing-masing penekanannya. Psikologi social akan mampu menjelaskan tentang komunikator atau komunikan sebagai individu dimana aktivitas komunikasi melibatkan dimensi psikologis seperti berfikir, sikap, dan sebagainya. Dalam kontek komunikasi massa, pendekatan psikologi social akan mampu menjelaskan tentang dampak media (media effect) yang terjadi pada diri khalayak. Dalam kontek komunikasi antar personal atau kelompok, pendekatan psikologi social akan menjelaskan tentang proses pembuatan pesan dalam diri individu, yang melibatkan dimensi psikologis seperti motiv, kepentingan, dan sebagainya.

Sedangkan semiotic akan dapat menjelaskan aspek pesan dari komunikasi. Atau yang lebih popular isi (content) dari komunikasi tersebut. Baik yang sifatnya verbal seperti bahasa maupun non verbal seperti gesture, distance, dan sebagainya. Demikian pula lambing visual. Dengan menggunakan perspektif dari sejumlah tokoh linguistic akan dapat dijelaskan makna dari suatu pesan. Salah satu aspek penting disini adalah berkaitan dengan hubungan antara pesan dengan nilai-nilai dalam suatu masyarakat. Bahwa menurut salah satu pandangan, pesan itu tidak memiliki kaitan langsung dengan objek. Pesan semata-mata arbiter, kesepakatan suatu masyarakat.

Pada perspektif lain, memandang bahwa pesan dengan realitas tidak dapat dipisahkan. Justeru pesan ikut mengkonstruksi realitas. Inilah pandangan dari kalangan post-struktualis yang banyak digunakan dalam perspektif postmodernisme.

Sementara tradisi social budaya akan dapat menjelaskan bahwa aktivitas komunikasi berkaitan dengan nilai-nilai yang hidup dalam suatu masyarakat. Dalam kontek komunikasi antar personal, maka individu akan ditentukan oleh nilai yang ada dan sekaligus juga akan ikut mengkonstruksi nilai berdasarkan pemaknaan yang dibentuknya. Dalam kontek komunikasi massa, maka isi media juga ikut ditentukan oleh nilai-nilai yang hidup dalam suatu masyarakat. Misalkan, Kompas yang semula Koran milik Partai Katolik kemudian merubah diri menjadi Koran umum independent, dengan isi yang tidak lagi mewakili kepentingan kalangan katolik.

Selanjutnya dalam pendekatan social budaya juga mempercayai media memiliki kemampuan ikut mengkonstruksi budaya. Dalam kontek ini pandangan tentang efek budaya media menjadi relevan. Kajian dengan pendekatan cultural studies menjadi penting. Media merupakan salah satu komponen dari kebudayaan.

Tradisi cybernetic mencoba menjelaskan tentang komunikasi sebagai sebuah sistim control. Tradisi ini dapat menjelaskan tentang sistim pers, sistim pengolahan dan pembuatan informasi yang berlangsung dalam diri manusia, kebijakan komunikasi, dan sebagainya.

Tradisi fenomenologi dapat menjelaskan tentang fenomena komunikasi sehari-hari seperti penonton televise, pembaca suratkabar, pendengar radio, atau komunikasi pada komunitas tertentu seperti keagamaan, gank remaja, dan sebagainya. Sedangkan tradisi kritis mencoba untuk melihat adanya kesenjangan dalam proses komunikasi. Figur seperti Herbert Schiller, Noam Chomsky, Ben Bagdikian, Habermas, Stanley Deetz, dan sebagainya menjadi penting disini. (teori kom)

Yang pokok adalah pengelompokkan teori komunikasi haruslah dikembalikan pada paradigma yang ada seperti positivistic (covering law perspective ; mekanistik), interpretative (rule theory; humanistik), kritis, dan postmodernism. (teori1)



Kajian Budaya (Cultural Studies)

Kajian Budaya identik dengan tradisi Eropa terutama Inggeris melalui Universitas Birmingham. Figur-figur utamanya seperti Richart Hoggard, Raymond William dan generasi penerusnya seperti Stuart Hall. Sesungguhnya Kajian Budaya juga berkembang di Amerika seperti tampak melalui figur Douglass Kellner dan James Carey. Menurut Gaye Tuchman, cultural studies di Amerika lebih dikenal sebagai sosiologi budaya (sociology of culture) dengan merujuk pada karya-karya Max Weber. 10 Everrett M. Rogers menyebut bahwa akar tradisi kajian budaya di Amerika berakar pada tradisi Chicago pada awal abad ke-20.

Beberapa figur yang dikelompokkan pula dalam kelompok ini adalah Roland Barthes, Micahel Foucault, Jean Boudrilard.

Beberapa konsep pokok dalam kajian budaya adalah konstruktivis, post strukturalis, postmodernis, neo-Marxist, theathre of struggle, site of struggle, articulation, identity. Berikut penjelasannya.

Post Strukturalis

yakni pandangan yang memandang realitas merupakan sesuatu yang komplek dan selalu dalam proses sedang menjadi. Realitas tidak sebagaimana pandangan kalangan strukturalis yang melihat sudah bersifat teratur, tertata, dan terstruktur. Realitas merupakan suatu proses pembentukan yang berlangsung terus menerus dengan melibatkan banyak kalangan dengan identitas masing-masing. Yang menonjol adalah terdapatnya proses artikulasi dari masing-masing kalangan.

Konstruktivis

Yakni pandangan bahwa realitas merupakan suatu bentukan secara simbolik melalui interaksi sosial. Keberadaan simbol atau bahasa menjadi penting dalam membentuk realitas. Berbagai kelompok dengan identitas, pemaknaan, pengalamaan, kepentingan, dan sebagainya mencoba mengungkapkan diri dan selanjutnya akan memberi sumbangan dalam membentuk realitas secara simbolik. Interaksi sosial menjadi penting dalam proses ini. Realitas secara simbolik merupakan hasil bersama secara sosial.

Articulation

Yakni proses pengungkapkan ideologi, nilai, kepentingan, dan sebagainya oleh suatu kelompok identitas. Dalam kondisi semacam ini, kelompok masyarakat bersifat aktif dalam menyampaikan aspirasi mereka. Sebuah kondisi yang ideal dimana masyarakat bersifat hidup karena mampu mengartikulasikan kepentingan mereka. Hal ini tepat benar dengan asumsi bahwa manusia itu bersifat aktif melakukan pemaknaan.

Identity

Karena dalam masyarakat terdapat berbagai macam kalangan dan manusia atau kelompok manusia merupakan insan yang aktif melakukan pemaknaan berdasarkan kepentingan dan pengalaman mereka, maka mereka masing-masing memiliki identitas yang unik. Maka realitas sosial sesungguhnya terdapat sejumlah identitas yang berbeda. Keberadaan identitas ini hidup ditengah masyarakat.

Site of struggle

sesungguhnya dalam realitas sosial berlangsung proses pertarungan kepentingan, ideologi, dan sebagainya. Masing-masing kalangan sedang mencoba untuk membangun hegemoni. Dalam kontek seperti ini berlangsung proses negosiasi diantara pihak-pihak yang terlibat dalam pertarungan. Bahwa kondisi yang menunjukkan pertarungan, negosiasi, dan semacamnya menjadi realitas yang wajar ditengah masyarakat.

Postmodernis

Merupakan masa setelah modernisme. Ditandai dengan sifat relativitas, tidak ada standarisasi nilai, menolak pengetahuan yang sudah jadi dan dianggap sebagai sesuatu yang sakral (grand narative). Menghargai hal-hal yang lokal, keunikan, dan semacamnya.

Neo-Marxist

Pandangan ini merupakan revisi terhadap Marxisme yang dinilai terlalu menyederhanakan realitas kedalam dua kubu yaitu kalangan penguasa dan kalangan tertindas berdasarkan kepentingan ekonomi. Sebaliknya, mereka yang mencoba tetap menggunakan asumsi Marxist namun memandang bahwa dalam realitas sosial yang komplek sesungguhnya terjadi pertarungan ideologi. Louis Althusser merupakan salah satu tokoh penting dengan konsepnya Repressive State Apparatus dan Ideology State Apparatus. Bila yang pertama merupakan lembaga kekerasan seperti militer maka yang kedua adalah lembaga seperti media, institusi pendidikan, dan sebagainya. Dalam kontek ini keberadaan ISA menjadi penting dalam kaitannya dengan Kajian Budaya.

KAJIAN BUDAYA TRADISI AMERIKA

Namun penting pula untuk dipahami bahwa Kajian Budaya juga berkembang di Amerika. Menarik memperhatikan kembali tradisi yang mencoba menoleh kembali pada apa yang dikembangkan oleh Kelompok Chicago. Yakni berkaitan dengan upaya untuk membangun komunitas.

Tentang cultural studies tampak dalam kajian makro yakni menelaah fenomena masyarakat. Bagaimana dengan kajian dalam kontek hubungan antar personal. Seperti dalam komunikasi organisasi, apakah cultural studies dan postmodernisme juga bisa digunakan .Mungkin bila strukturasi bias dikategorikan postmodernisme maka bias digunakan dalam kontek komunikasi organisasi. Tapi menyangkut hubungan antar personal barangkali tidak tepat. Kajian hubungan antar personal tetap dalam kontek pendekatan psikologi. Dan perlu diingat interaksi simbolik memiliki kedekatan dengan psikologi.

Sedang cultural studies memang dari awalnya sudah bersifat makro. Berkaitan dengan pendekatan tentang masyarakat. Sebagaimana perhatian Raymond WiIliam tentang kelas pekerja, atau Stuart Hall tentang kalangan minoritas di tengah masyarakat Inggeris Raya.

Langkah Sebelum Masuk ke Teori

Langkah awal untuk masuk ke teori adalah memahami peta. Semacam panduan agar kita tidak ‘tersesat’. Artinya, agar tidak bingung, abstrak, dan susah. Teori ibarat hutan belantara, maka untuk masuk ke dalamnya kita perlu mengenali hutan belantara tersebut seperti pengelompokkan tanaman ke dalam species, genus, dan semacamnya. Demikian pula kalau ada lembah dan ngarai kita juga perlu memahami agar tidak terjatuh. Sampai disini kita memasuki apa yang disebut sebagai pendekatan filsafat ilmu. Yakni mendekati komunikasi dari sudut filsafatnya.

Filsafat Ilmu merupakan suatu pandangan yang menyeluruh tentang suatu ilmu. Terdapat beberapa konsep penting seperti aspek ontologi, axiologi, epistemologi. Ontologi mencoba memahami apa yang disebut realitas (tentang ada), exiologi tentang nilai, dan epistemology tentang tata cara memperoleh ilmu pengetahuan. Setiap teori memiliki ketiga unsure ini. Konsekuensi dari perbedaan ontology, epistemology, dan axiology adalah berimbas pada metode penelitian yang dilakukan.

Filsafat Ilmu Pengetahuan mencoba membahas tentang ilmu pengetahuan. Sehingga dapat pula disebut sebagai Teori Ilmu Pengetahuan (Theory of Knowledge). Pemahaman yang memadai tentang hakikat Ilmu Pengetahuan akan menjadi pegangan yang penting bagi mereka yang mempelajari ilmu pengetahuan. Dalam kontek ini relevan apa yang diawal disebut yakni sebagai peta yang akan memandu orang dalam memahami ilmu pengetahuan.

Ilmu Komunikasi merupakan bagian dari Ilmu Sosial. Dalam Ilmu Sosial dalam tinjauan Filsafat Ilmu Pengetahuan dikenal terdapatnya paradigma atau perspektif. Yakni positivistik, interpretatif, dan kritis. Perkembangan kontemporer dalam ilmu sosial mengenalkan tentang perspektif yang sedang berkembang yaitu postmodernisme. Maka sesungguhnya dalam mengkaji teori komunikasi akan dapat dikelompokkan ke dalam paradigma atau perspektif ini. 11

Masing-masing paradigma ini memiliki sudut ontologi, epistemologi, dan axiologi yang berbeda. Terdapatnya perbedaan unsur-unsur filsafat ilmu semacam ini menjadikan adanya perbedaan yang kadangkala tidak jarang kita temukan adanya kontradiksi satu sama lain. Tapi sekali lagi, ini menunjukkan bahwa masing-masing teori memiliki kebenarannya sendiri bergantung pada asumsi ontologi, axiologi, dan epistemologi.

Yang jelas suatu paradigma memberi penekanan pada aspek yang lain dan melalainkan sudut pandang yang lain. Dalam kontek inilah kita dapat memahami. Misalkan paradigma positivistik menekankan pada keharmonisan dan berlangsungnya peran ; tapi tidak mempersoalkan kesenjangan dan dominasi. Hal inilah yang kemudian mendapat perhatian dari aliran kritis. Barangkali dalam kontek ini pula kemudian, bila mencoba merumuskan ilmu social profetis dimana sudut pandang dari ajaran Islam menjadi penting.

Maka harapannya, dengan memahami unsur-unsur ontologi, axiologi, dan epistemologi ini kita akan dapat memahami suatu teori dengan tepat. Sehingga pada akhirnya kita pun akan dapat menggunakan teori secara benar. Sehingga pemikiran yang logis, pemahaman yang memadai terhadap perbedaan teori, penggunaan yang tepat dalam menganalisis masalah-masalah komunikasi, akan dapat dimunculkan.

Buku lain yang menarik dan penting dalam kaitannya dengan Ilmu Komunikasi adalah karya John Fiske. Beberapa pola yang dihadirkan adalah untuk menyebut teori komunikasi, maka Fiske menggunakan model-model yang sudah ‘populer’ selama ini seperti Shannon dan Weaver sebagai peletak fondasi melalui teori informasi dan cybernetic. Kemudian dikenalkan model lain seperti Gebner, Lasswell, Newcomb, Westley dan MacLean, dan Jakobson.

Selanjutnya juga dibuatkan penghubung dengan perspektif ‘baru’ tentang hubungan komunikasi, pemaknaan, dan tanda-tanda. Dari sini kemudian masuk pada kajian tentang simbol dan semacamnya seperti metode semiotika. Melalui pintu ini pula kemudian kajian komunikasi perspektif ‘baru’ yang lebih dekat dengan tradisi kajian budaya diperkenalkan.

Bila pada kajian komunikasi yang sudah ‘populer’ metode penelitian dikenal seperti uses and gratification,agenda setting, cultivation analysist, content analysis, semantic differential. Maka dalam pendekatan yang ‘baru’ dikenalkan semiotik dengan tokoh-tokoh seperti Roland Barthes.

Buku kecil ini menjadi penting untuk mencoba melihat pemetaan kajian komunikasi dengan melihat keterkaitan dengan wacana kontemporer dalam ilmu-ilmu sosial, dalam hal ini perpektif kajian budaya dan tema-tema dalam postmodernisme. Buku ini terbit 1982-an. Coba bandingkan, dengan hadirnya buku Everrett M. Rogers, History of Communication Study : A Biograrphycal Approach (1994) yang menunjukkan pengakuan akan kehadiran pendekatan budaya yang perlu untuk diperhatikan dalam kajian komunikasi.

Dengan begitu, perspektif tentang kajian budaya sebagai yang kontemporer menjadi penting untuk diperhatikan.

Hal lain yang penting dari Fiske adalah mengenalkan tentang dua cara memahami komunikasi yaitu antara transmisi model dan meaning / ritual model. Sebuah pembagian yang dikenalkan pula James W. Carey yang merujuk kembali pada pemikiran John Dewey dari Chicago School. (--16/4/5—ketika model ini disampaikan dalam forum kajian komunikasi landungsari, tampaknya ada kesan audience memahami sebagai sesuatu yang baru. Ini menandakan hal ini belum banyak diketahui. Belum populer)

Maka membahas buku James W. Carey, Communication As Culture, tampaknya juga penting. Termasuk menjadikan sebagai literature dalam kajian komunikasi. Buku ini cukup sering dirujuk dalam banyak literature. (Perbandingan pustaka)

PERBANDINGAN LITERATUR TENTANG TEORI KOMUNIKASI

Berikut perbandingan sejumlah bacaan tentang teori komunikasi untuk melihat sudut pandang dalam membahas teori komunikasi. Pertama adalah buku Building Communication Theory oleh Dominic A. Infante, Andrew S. Rancer, dan Deanna F. Womack. Tampak sebagai berikut : memaparkan pengantar awal tentang kajian ilmu komunikasi yang meliputi defenisi komunikasi, karakteristik komunikasi yang dibuat menjadi kategori : hakekat komunikasi sebagai simbolik, bertujuan, tindakan terencana, transaksional, kontektual, kemudian juga tentang fungsi komunikasi, arti penting komunikasi, serta model-model komunikasi. (perlu baca models-models komunikasi, pinjam nasrulloh8/3/5)

Bagian berikutnya juga membahas satu bab tentang sudut pandang mengenai teori seperti fungsi teori, perkembangan dan perubahan teori, cara menguji teori. Tampaklah disini pembahasan dari sudut filsafat ilmu pengetahuan.

Bab berikutnya membahas tentang paradigma dan teori komunikasi. Disini paradigma dibagi kedalam tiga kelompok yaitu hukum peliputan, aturan, dan sistim.

Penyusun buku ini kemudian membuat judul pokok pada bagian kedua Bangunan Teori dalam Pendekatan Utama untuk Komunikasi yakni : perkembangan pendekatan dalam kajian komunikasi (aspek kronologis historis), pendekatan kepribadian, pendekatan persuasi, pendekatan tingkah laku verbal, dan pendekatan tingkah laku non verbal. (e

Bagian terakhir atau ketiga dibuat judul Bangunan Teori dalam Kontek Komunikasi yang dibagi kedalam : kontek interpersonal, kontek kelompok dan organisasi, kontek media massa, dan kontek antar budaya.

Beberapa hal yang dapat dikomentari adalah : mengenalkan tentang pengertian dasar komunikasi, model-model komunikasi, perkembangan kajian komunikasi, perspektif dalam kajian ilmu komunikasi, pendekatan kajian komunikasi (kepribadian, persuasi, perilaku verbal, perilaku non verbal), dan kontek-kontek komunikasi.

Maka bila menggunakan literatur lain, maka ketika menjelaskan tentang pengertian komunikasi dapat pula menambahkan apa yang dikembangkan James Carey, John Fiske tentang komunikasi sebagai transmisi dan meaning. Sedangkan untuk model komunikasi dapat pula menambahkan model J. Habermas. (speech act, 8/3/5)

Sedangkan buku lain dari Julia Wood, Communication Theory in Action membuat sudut pandang dalam membahas teori komunikasi sebagai berikut. Bagain pertama membahas komunikasi dan teori yang meliputi pembukaan, komunikasi sebagai sebuah bidang (defenisi komunikasi, nilai komunikasi, nafas bidang komunikasi : intrapersonal, interpersonal, kelompok, dan publik). Bab ke-dua tentang memahami teori komunikasi yang meliputi tujuan teori, cara mengevaluasi teori, perspektif dalam mempelajari teori. Sedangkan bab ke-tiga masih membicarakan tentang teori dan cara melakukan uji teori.

Bagian kedua membahas teori-teori komunikasi yang dikelompokkan : suatu pandangan awal tentang teori komunikasi : general semantic. Bab berikut tentang kegiatan simbolik : interaksi simbolik, dramatisasi, teori narasi. Teori tentang bagaimana manusia membuat pemaknaan (CMM dan konstruktivisme). Teori tentang dinamika komunikasi (teori interaksi, teori dialektika). Teori tentang komunikasi dan evolusi relasional (URT, Social Exchange Theory, Developing Theories). Teori tentang budaya komunikasi (komunikasi dan kebudayaan ; budaya organisasi, komunitas berbicara). Teori komunikasi massa. Teori komunikasi kritis. Pada pandangan akhir Wood mencoba mengingatkan tentang perkembangan kontemporer dengan tampilnya postmodernisme.

Beberapa hal yang menarik dari buku Wood adalah : dimasukannya pendekatan kritis dalam kajian komunikasi. Demikian pula pandangan kontemporer dari kubu postmodernisme yang juga sudah diperkenalkan. Hal ini menarik dalam membahas teori komunikasi. Tampaknya dengan memasukan pendekatan kritis dan postmodernisme semakin kuat ketika kita melihat pembagian yang dibuat oleh Stephen W. Littlejohn dan E.M. Griffin yang juga sudah memasukan pendekatan diatas.

Sedangkan persinggungan dengan buku Building Communication Theory adalah ditempatkannya pembahasan tentang bahasa atau simbol sebagai poin yang penting. Selain tentu saja tentang aspek filsafat ilmu pengetahuan seperti hakekat teori, fungsi teori, cara menguji teori, atau perkembangan teori. Hal yang sama juga terlihat dalam buku Stephen W. Littlejohn. Hal lain adalah tentang komunikasi sebagai fenomena interaksi yang perlu diberi perhatian. Dalam hal ini secara umum dapat disebut sebagai kontek interpersonal dari komunikasi. Terdapat sejumlah teori yang dapat membantu menjelaskan hal ini.

Tampak bahwa pembahasan tentang aspek Teknologi Informasi belum mendapat perhatian. Padahal bila kita perhatikan dalam buku kumpulan tulisan Communication Theory Today, tampak bahwa terdapat teori-teori yang mencoba mengkaji tentang keberadaan dunia Teknologi Informasi terhadap kehidupan manusia. Tampaknya inilah kajian-kajian seputar computer mediated communication (CMC). Menjadi kebutuhan untuk membahas hal ini dalam kontek sekarang karena menjadi realitas yang sedang dihadapi masyarakat kita tidak terkecuali di Indonesia.

CMC tampaknya dapat dihubungkan dengan postmodernisme. Sebab salah satu hal pokok dari postmodernisme adalah pentingnya media elektronik. Dan perkembangan media adalah bertemunya media elektronik dengan satelit yang semakin mewujudkan global village. Maka pembahasan tentang teknologi komunikasi juga merupakan suatu materi yang penting dan perlu dilakukan.

Dalam kontek ilmu komunikasi, bentuk tubuh ilmu komunikasi dapat dikenali berdasarkan apa yang telah dicoba susun oleh sejumlah sarjana. Misalkan Robert Craig yang dikutip baik dalam buku Stephen W. Littlejohn maupun EM. Grifin dengan membagi kedalam tujuh tradisi : psikologi sosial, sosial budaya, retorika, semiotik, cybernetik, fenomenologi, dan kritis. Atau Tankard – membagi ke dalam : Barat dan Timur. Demikian pula John Fiske dan James W. Carey membedakan antara model transmisi dan model ritual / meaning.

Ilmu Komunikasi didekati dalam sejumlah pendekatan. Kelahiran Ilmu Komunikasi 13 menunjukkan keterlibatan sejumlah disiplin seperti sosiologi, politik, psikologi, matematik, dan sebagainya. Maka tidak mengherankan bila pendekatan dalam mengkaji ilmu komunikasi terdapat sejumlah pendekatan dalam pengertian disiplin.

Misalkan sebagaimana tergambar berikut :

Para pengkaji media massa dalam mendefenisikan komunikasi bias dari aspek perkembangan teknologi atau pengaruh pers terhadap public. Dari kalangan telekomunikasi seperti Shannon dan Weaver mengartikan komunikasi dalam source, pesan, saluran, penerima. Sementara ahli peneliti ilmu social secara alamiah memasukan tujuan dari pengirim pesan dan dampak pesan tersebut pada penerima—sejak dari hubungan dua orang sampai gerakan social dari penduduk yang luas. Kalangan manajemen memusatkan pada pengiriman pesan yang jelas kepada pekerja untuk menjadikan tugas dikerjakan dengan baik. Seorang ahli terapi percakapan memusatkan pada tindakan menerima pesan secara lisan. Pandangan ilmiah tentang komunikasi memiliki suatu misi yang jelas dan khusus…………

Para psikolog yang terbiasa bekerja dengan komunikasi antarpersonal cenderung memusatkan pada kompleksitas dari hubungan internal dan eksternal, kepribadian, motiv, dan dorongan dari orang melakukan komunikasi. Ahli lain mempelajari asal muasal atau pemaknaan dari kata-kata. McLuhan percaya bahwa mengkaji komunikasi diganggu oleh terlalu banyak perhatian pada sender-message-receiver. Dia memandang bahwa perhatian tersebut tidak menyertakan hal paling pokok pada medium dan berpandangan pada penekanan dalam bukunya The Medium is the Message. (--10/6/5—berarti teknologi determinism dapat juga dipandang sebagai sebuah aliran diluar model transmis dan meaning. Bukankah McLuhan mengkritik cara pandang transmisi? Kembangkan)

Katz dan Lazarfeld mempertanyakan pemikiran bahwa public dipengaruhi secara langsung oleh pesan dari media—mereka menekankan bahwa kontak antar pribadi oleh orang, khususnya, pemuka pendapat berbicara kepada yang bukan pemimpin, lebih mungkin mempengaruhi sikap dari pada media mekanik pesan hanya dari diri mereka sendiri. Pemikiran mereka, yang mereka sebut “two step flow” of information merupakan sangat penting bagi mahasiswa dan guru mengenai komunikasi antar pribadi sebagaimana mereka yang mengkaji komunikasi massa. 14

Tampaklah betapa ilmu komunikasi didekati dalam sejumlah pendekatan dan sudut pandang. Masing-masing dengan perspektif keilmuannya. Masing-masing memiliki landasan kebenarannya. Tentu saja penekanan dari latar belakang keilmuan menjadi penting untuk diperhatikan. Maka itu perlu melakukan pendekatan tertentu.15

Dr. Sasa Djuarsa mengatakan ilmu komunikasi tidak memiliki grand teori. Dalam buku Littlejohn terasa sekali betapa ilmu-ilmu social kontemporer ikut dimasukan sebagai kajian ilmu komunikasi. Hal ini menunjukkan betapa terbukanya ilmu komunikasi. (pendekatan komunikasi)

Dalam kajian komunikasi, pendekatan positivistic dapat dijumpai dalam penelitian administrative dengan tokoh utama Paul F. Lazarfeld. Dalam kontek ini, penelitian memberi perhatian terhadap aspek mikro yakni unit analisis individu. Hasil penelitian akan berguna bagi dunia industri untuk dasar membuat keputusan. Penelitian semacam ini tidak mampu menunjukkan adanya kesenjangan yang terjadi di masyarakat. Hal yang sama juga berlaku pada penelitian persuasi Hovland yang menggunakan pendekatan eksperimental. Tidak bias dipungkiri bahwa masa awal proses pembentukan kajian komunikasi dalam kontek decade 40-an dominan paradigma positivistic atau yang disebut juga aliran empiris.

Maka dalam kontek yang lain, pendekatan kritis dan interpretative menjadi penting. Pendekatan kritis dapat menjelaskan tentang aspek makro. Melihat ada kesenjangan dalam relasi social. Demikian pula pendekatan interpretative yang memberi perhatian pada pendekatan yang lebih humanistic. Dalam pengertian tidak memperlakukan manusia sebagai objek tapi sebagai subjek.

Maka ketika kemudian dikenalkan pendekatan Newman yang memaparkan paradigma yang ada dalam ilmu social, baru dia menyadari letak persoalannya. Ada kesan, cara berpikir dalam paradigma positivistic sangat dominant dalam benak mahasiswa sehingga ketika memahami paradigma lain seperti interpretative atau kritis, masih menggunakan cara berpikir positivistic.

Dalam kontek inilah kerancuan berpikir terjadi. Dalam kasus komunikasi, DR. Viktor Menayang mengungkapkan betapa seorang mahasiswa program doktornya yang menduduki pimpinan sebuah media industri, dalam menulis disertasi memilih paradigma kritis yang dapat dengan tajam menjelaskan persoalan yang terjadi dalam media industri. Namun diakhir penelitiannya dia mengemukakan gagasan yang berkaitan dengan peningkatan profesionalitas kinerja. Hal ini yang dikomentari DR. Victor terjadi kerancuan berpikir.

Hal lain yang hendak diungkapkan DR. Victor Menayang adalah soal polemic dampak media antara hypodermic needle dan limited effect. Hal-hal ini tidak menjadi perhatian atau prioritas DR. Victor Menayang karena menurutnya masih ada hal lain yang lebih mendesak. Yakni menyangkut cara pandang terhadap media sebagai institusi social yang memiliki dimensi ekonomi dan politik. Sehingga dia beralih memperhatikan dari pendekatan mikro seperti efek media ke kajian pendekatan makro yang mencoba mempersoalkan relasi antar institusi social yang ada seperti ekonomi, politik, budaya, dan sebagainya.

Dalam kontek inilah sesungguhnya kita memahami perdebatan dalam ilmu komunikasi. Bahwa perspektif positivistic yang banyak menggunakan pendekatan mikro sangat dominant di Indonesia. Kalau kita memperhatikan kurikulum maka dapat dilihat betapa dominannya arus besar ini. Begitu pula dalam tema-tema komunikasi pembangunan yang banyak merujuk pada cara pandang semacam ini.

Barangkali dapat pula dikaitkan dengan dominannya proyek modernisasi. Dimana kepentingan dunia usaha menjadi dominant. Maka dalam kontek ini pilihan paradigma ilmu social yang dikembangkan cenderung pada pandangan positivistik.

Maka menjadi keharusan bagi mahasiswa untuk memahami keseluruhan perspektif yang ada seperti positivistic, interpretative, kritis, dan postmodernisme. Tinggal kemudian memilih perspektif mana yang dipercaya dan berguna dalam pilihan profesi yang kemudian ditekuni. Yang pada hakikatnya juga mewakili kepentingan dan nilai-nilai yang mereka yakini.

Fenomena dominannya pendekatan administrative dalam kajian komunikasi di Amerika tidak terlepas dari era propaganda dan kemudian industrialisasi. Maka dalam kontek ini kenapa kemudian model yang dikembangkan Paul F. Lazarfeld menjadi dominant. Bandingkan kemudian betapa pendekatan antropologi menjadi penting dalam kontek komunikasi antar budaya yang muncul dalam suasana setelah perang dimana pemerintah Amerika dalam menjalankan proyek modernisasi ke Negara-negara lain memerlukan pemahaman yang memadai mengenai budaya bangsa lain. Maka para ahli antropologi seperti Edward T. Hall menjadi penting sebagai rujukan dalam kajian komunikasi antar budaya. (filsafat ilmu3)

MAZHAB ILMU KOMUNIKASI

Mashab Ilmu Komunikasi perlu untuk dikenali. Dalam ilmu sosial, kita mengenal mashab seperti Chicago, Frankurt, Annal, dan sebagainya. Secara sederhana, mashab berkaitan dengan suatu aliran ilmu pengetahuan yang sangat berpengaruh dan memiliki pendukung. Dengan memahami mashab menjadi penting untuk mengenali pengelompokkan teori.

Dalam studi komunikasi, kita mengenal beberapa mashab seperti Chicago School, Administrative Research, Teknologi Deterministik, Palo Alto, Birmingham Cultural Studies, dan sebagainya. Melalui beberapa kelompok ini kita akan mengenal sejumlah tokoh dan teori komunikasi.

John Fiske secara umum membagi pembagian mazhab studi komunikasi kedalam empirisme dan semiotic. Berikut penjelasannya dari pemaparan dibawah ini.

Empirisme

Mashab empiris dapat dikenali seperti pada penelitian content analysist, uses&gratification, agenda setting, cultivation analysist, survay, eksperimen. Penelitian-penelitian yang tergolong penelitian nomothetic, yaitu penelitian empiris yang akan mengukur realitas dan akan menghasilkan suatu generalisasi. Secara paradigmatic, mashab empiris berada dalam positivistik.

Mashab empiris dapat dikenali ketika dalam kajian komunikasi di Amerika menguat tradisi behavioral dari psikologi sosial dan sosiologi struktural fungsional. Maka pandangan yang menggunakan asumsi berfikir positivistik kemudian menjadi dominan dalam studi komunikasi.

Beberapa teori komunikasi yang dapat dimasukan dalam kelompok ini adalah ragam teori yang disebut sebagai covering law theory dan sistim teori. Yakni teori yang dipercaya berlaku universal, berdasar penelitian empiris, bersifat objektif, dan sebagainya. Contoh teorinya adalah temuan penelitian Carl Hovland, Paul F. Lazarfeld, Wilbur Schramm, dan sebagainya. Misalkan teori two steps flow of communication, teori persuasive Hovland, teori Uncertainty Reduction Theory, dan sebagainya.

Mengenai Teori Sistem yang teori ini misalkan nanti berkaitan dengan kajian organisasi atau kajian makro mengenai sistim sosial. Pemikiran mengenai cybernetic dapat dimasukan dalam kelompok ini. Demikian pula pendekatan kognitif dalam proses pembuatan keputusan.

Keberadaan kalangan administrative riset berada dalam mashab empiris. Pandangan kalangan ini juga dapat kita pahami memandang komunikasi sebagai transmisi. Hal ini menjadi dapat dimengerti karena kemunculan kelompok ini berkaitan dengan era propaganda di Amerika.

Dapat juga dimasukan disini berkaitan dengan tradisi kajian komunikasi dari Amerika pasca Chicago School. Sekalipun kita juga perlu kemukakan bahwa tradisi ini kemudian juga akan mempengaruhi kajian komunikasi di Eropa, yang ditandai dengan diadopsinya penelitian kuantitatif dalam kajian komunikasi di Eropa.

Semiotics

Inti dari mazhab ini mencoba untuk menekankan pada text atau yang disebut juga sebagai works of communication action. Perhatian berkaitan dengan lambang dalam artian luas (text). Dengan demikian tidak lagi memperhatikan soal unsur-unsur komunikasi sebagaimana yang terdapat pada mashab empiris yang memahami komunikasi sebagai transmisi. Karenanya juga tidak memikirkan tentang efek komunikasi. Cara berpikirnya adalah empati, memahami (verstehen), berfikir holistik, dan sebagainya.

Mashab ini kemudian menjadi penting bila kita kaitkan dengan pendekatan humanistik. Bila dikembalikan pada paradigma ilmu sosial akan berada dalam paradigma interpretatif. Penelitiannya kemudian disebut sebagai penelitian ideografik, yang bertujuan untuk menggambarkan secara mendalam mengenai tindakan sosial yang bermakna (meaningfull social action).

Contoh teori yang berada dalam mashab ini adalah kajian tentang audience aktif (active audience) sebagaimana dilakukan James Lull. Demikian pula penelitian lapangan (field research) yang banyak dilakukan Robert E. Park dari Universitas Chicago diawal abad 20. Teori lain misalkan teori Interaksi Simbolik yang dikembangkan George H. Mead.

Dalam kajian komunikasi, bila mengacu pada pembagian Fiske diatas, mashab semiotic ini dapat didekatkan dengan pandangan komunikasi sebagai ritual, atau meaning. Atau bila mengacu pada James W. Carey kita mengenali pengertian komunikasi sebagai budaya (communication as culture).

Berkaitan dengan pembahasan mengenai mashab ini juga penting untuk membahas tentang keberadaan paradigma ilmu sosial kritis (critical social science) dan postmodernisme. Paradigma kritis posisi paradigma berada diantara positivistik (empiris) dan interpretatif (semiotics).

Memang dalam ilmu komunikasi dewasa ini kita dapat jumpai kehadiran figur dari paradigma kritis seperti Stanley Deetz, Noam Chomsky. Herbert Schiller, dan sebagainya.

Demikian pula, sebelum dilanjutkan, perlu untuk memahami mengenai critical social science. Bahwa paradigma ini disatu sisi tergolong positivistik karena bersifat empiris mengenai realitas yang tersusun atas kelompok berkuasa dan kelompok yang dikuasai. Pada sisi lain, paradigma kritis tidak bersifat objektif sebagaimana prasyarat dalam paradigma positivistik. Paradigma kritis sedari awal melakukan keberpihakan terhadap kalangan yang dikuasai. Ini yang disebut ilmuwan tidak hanya menjadi pengamat tetapi juga terlibat dalam melakukan emansipasi terhadap kalangan yang lemah itu.

Maka nantinya, dalam tradisi kritis, pada satu sisi kita dapat memakai analisis semiotik untuk menunjukkan terjadinya proses dominasi. Pada sisi yang lain, kita juga mempercaya adanya struktur sosial yang ditandai dengan proses dominasi itu.

Bahwa dalam perkembangan ilmu pengetahuan kontemporer kemudian dikenal apa yang disebut postmodernisme atau post strukturalis, bahkan ada juga yang disebut sebagai post colonial.

Perkembangan ini juga melanda kajian komunikasi. Hal ini tentu saja mengingat karakter ilmu komunikasi yang interdisipliner. Dengan begitu perkembangan yang terjadi dalam berbagai bidang tentunya juga akan diikuti ilmu komunikasi.

Bahwa pandangan modernis—dan kita tahu ilmu komunikasi lahir sebagai bagian dari produk modernis—dinilai mereduksi kompleksitas realitas, etnosentrik, dan mekanis. Sebaliknya posmodernisme menjelaskan fenomena masyarakat kontemporer, masyarakat informasi, masyarakat yang dibesarkan oleh budaya televisi dan terbentuknya global village, budaya kapitalisme lanjut, dan sebagainya. Beberapa figur dari paradigma ini adalah seperti Michael Foucault, Roland Barthes, Jean Boudrillard, dan sebagainya.

Posmodernisme merupakan pendekatan pasca modern. Pendekatan ini dikenal juga sebagai poststrukturalis. Pandangan disini lebih melihat realitas sebagai sesuatu yang lebih komplek dan senantiasa berproses. Pentingnya peran bahasa sebagai pembentuk realitas. Pandangan semacam ini tergolong pandangan kontemporer yang tentu juga berlaku bagi studi komunikasi. Dalam mashab ini pendekatan penelitian yang digunakan adalah semiotic dan etnografi. Disini tampak pendekatan dari tradisi semiotik digunakan. Demikian juga dari tradisi interpretatif lain seperti etnografi.

Sampai disini pembahasan mengenai mashab sudah menunjukkan keseluruhan yang ada. Dengan memahami mengenai mashab ini kita dapat mengenali secara utuh mengenai kajian ilmu komunikasi

0 komentar:

Posting Komentar