Selasa, 25 Mei 2010

Teori Komunikasi Teori Proses dan Efek Media Menurut Katherine Miller

1.1 Latar Belakang

Pada Abad ke-19 - ke-20, diskusi media komunikasi berkembang luas. Media komunikasi hanya dengan interaksi tatap muka maupun yang dicetak sebagai buku atau surat kabar mulai bertebaran secara luas. Saat itu sirkulasi surat kabar meningkat dengan audience yang menyebar luas. Tak hanya itu, media lain digunakan secara ektensif untuk propaganda nasional dan sosial, seperti saat Perang Dunia II, dan penggunaan radio yang memuncak di Amerika. Hingga sekarang kita telah mampu mengakses bermacam-macam media, termasuk surat kabar, radio, network, televisi kabel, internet, telephone, e-mail, video dan audiotape, dan sebagainya.
Dari kemajuan-kemajuan tersebut kita juga perlu memikirkan dan mempertimbangkan efek dari media massa tersebut. Hal ini sangat penting untuk diketahui bagaimana media massa mempengaruhi kehidupan manusia.

1.2 Tujuan

Pada tulisan ini akan mencoba mengkaji empat teori yang berkaitan dengan proses dan efek media.

BAB II
PEMBAHASAN

THE BULLET DAN THE NEEDLE

Secara singkat pemirsa melihat media massa sebagai pembentuk opini publik dan kekuasaan perilaku apa pun merupakan andil dari komunikator. Media memandang sebagai peluru atau jarum hipodermik, menembakkan pesan sesuai keinginannya secara langsung pada gagasan, sikap dan perilaku dari si penerima pesan.
Teori peluru tidak hanya memandang asumsi tentang media tetapi juga asumsi pemirsa. Pemirsa di sini dipandang sebagai perkumpulan massa. Beberapa peneliti (Auguste Comte, Herbert Spencer dan Emile Durkhein) melihat pada peningkatan kompleksitas dari masyarakat karena industrialisasi, urbanisasi, dan faktor lain, kemudian menyimpulkan bahwa individu akan terisolasi dan menjadi tidak mampu untuk membentuk koneksi komunitas yang berarti dengan yan lainnya. Pandangan masyarakat sosial menekankan pada karakteristik berikut:
1. individu dianggap pada sebuah situasi isolasi psikologis,
2. impersonality menang dalam interaksi individu dengan yang lainnya,
3. individu bebas secara relatif dari tuntutan pengikatan informal obligasi sosial.
Individu dalam konsep masyarakat dilihat sebagai sasaran mudah bagi “peluru” media. Individu pada masyarakat sosial akan putus hubungan, terpisahkan karena kekuatan media yang berdampak langsung dan sangat kuat pada mereka.

Alternatif untuk Efek yang Kuat
Teori peluru dan jarum hipodermik mengusulkan efek kuat dari media massa untuk tidak memegang kekuasaan jangka panjang. Beberapa faktor yang menyajikan daya pendorong untuk mengubah pikiran dalam hal ini: pertama, pada filosofi dasar, gambaran individu sebagai sasaran empuk yang pasif tidak mampu dipertahankan oleh beberapa komentator. Model kemanusiaan ini tidak cocok dengan kepercayaan waktu. Kedua, pengembangan teoritis dalam psikologi dan sosiologi mengkhawatirkan pandangan apa yang sah menjadi sifat individu pada teori mass society. Pengembangan ini menekankan pada kesadaran dan faktor sosial yang dibutuhkan untuk menjadi pertimbangan. Akhirnya, riset empiris efek media massa pada data individu yang diberikan adalah kebalikan dari efek model penyajian data karena secara filosofi, teori dan pengembangan empiris, para ahli mulai mencari faktor-faktor yang mengurangi efek media dan era efek model terbatas telah tersampaikan.
Konsep awal media memiliki efek terbatas tidak berdasarkan pada banyaknya model isi media, tetapi pada perubahan pandangan pemirsa. Dalam bahasa teori psiklogi dasar, paradigma efek yang kuat dapat digambarkan sebagai model (S-R) stimulus-respons yang mudah. Stimulus (media) menhasut respons langsung pada individu (seperti bentuk sikap, kepercayaan atau perilaku). Dalam model ini, tidak ada proses campur tangan antara stimulus dengan respons. Di pertengahan Abad 20, macam-macam alternatif dari model S-R dasar telah dikembangkan dalam psikologi dan ide yang berhubungan dengan riset komunikasi massa. Beberapa faktor orgasnisme (O) dipandang datang di antara stimulus dan respons. Dalam pertimbangan media massa, model S-O-R melihat pada cara media memiliki pengaruh selektif pada respons individu. Media dapat mempengaruhi berbagai kelompok manusia degan cara yang berbeda.

SOSIAL COGNITIVE THEORY

Seraya teoritikus berpaling dari efek kuat model peluru yang menyatakan tidak adnya perbedaan khalayak dan keterbatasan sikapnya terhadap efek model S-R dan S-O-R. Dengan kata lain, teoritikus mulai untuk bertanya tentang apa sifat-sifat manusia – pada khususnya, apa sifat-sifat psikologis – datang di antara stimulus pesan media dan respons pemirsa. Suatu konseptual yang paling nyata untuk peran individu adalah melihat perbedaan pada penerimaan sikap yang baru dan perilakunya.
Belakangan ini psokolog behavioris, sepertinya J. B. Watron dan B. F. Skinner memperhatikan secara luas pada “human action” adalah proses penamaan (labeling) sebagai “operant conditioning” adalah sebuah model S-R memberi kesan bahwa manusia belajar dari penghargan (seperti, penerimaan penguatan positif) atau hukuman (penerimaan penguatan negatif) ketika mereka merespon stimulus khusus.

Asumsi Dasar Social Cognitive Theory
Inti konsep pada social cognitive theory adalah ide penelitian sosial. Ketika ada banyak model pada lingkungan individu-individu teman-teman atau anggota keluarga dalam lingkungan interpersonal, orang lain dari kehidupan publik atau umum, atau figur pada berita atau media entertainment – kemudian pembelajaran dapat dapat terjadi karena pengamatan model tersebut kadang-kadang perilaku dapat diperoleh dengan mudah melalui proses modeling. Proses modeling dapat juga dilihat dengan memperhatikan sumber media. Namun, ketika “simple modeling” tidak cukup untuk mempengaruhi perilaku.
Pada social cognitive theory penguatan bekerja melalui proses-proses pencegahan efek dan pembiaran efek. Sebuah proses pencegahan efek terjadi ketika seseorang melihat model dihukum atas perilaku tertentu. Pengamatan hukuman ini akan mengurangi kemungkinan pengamatan melakukan perilaku yang sama. Sebaliknya, pembiaran efek terjadi ketika seseorang melihat model dapat penghargaan atas perilaku tertentu. Situasi ini menyebabkan pengamat lebih senang melakukan perilaku tersebut.

Social Cognitive theory juga mempertimbangkan kemampuan penting seorang pengamat untuk melakukan perilaku tertentu dan kepercayaan diri saat berperilaku. Kepercayaan diri ini disebut sebagai self efficacy dan ini terlihat sebagai sebuah prasyarat kritik untuk perubahan perilaku. Social cognitive theory berasumsi bahwa pembelajaran dari model tidak akan terjadi jika seseorang merasa tidak mungkin untuk melakukannya.


TEORI USES AND GRATIFICATIONS

Program yang apling popular di Amerika Serikat sejauh ini adalah Who Wants to Be a Milionaire di stasiun tv ABC. Program ini ditayangkan tiga atau empat kali seminggu dan disaksikan oleh banyak orang di amerika. Ini menjadi satu-satunya stasiun televisi yang bertahan selama tujuh tahun dan mempunyai sebuah ikon yaitu ”Is that your final answer?” yang sangat populer saat ini. Popularitas program menyajikan pemahaman diwaktu yang tepat tentang pengaruh media terhadap individu sebagai penonton dalam kelompok sosial yang besar.
Menariknya, studi memperlihatkan bagian pertama dari penelitian mengenai uses and gratifications menggunakan pendekatan yang sama dengan fenomena media. Pada akhir tahun 30-an dan awal 40-an program quis populer dengan pendengar radio dan Herza Herzog menanyakan sebuah pertanyaan simpel kenapa jenis program ini menarik perharian masyarakat luas. Dalam menjawab pertanyaan ini, Herzog berasumsi yang kontra antara masyarakat dan efek yang kuat pada pemirsa dan mempertimbangkan bahwa maksud sejumlah orang mendengarkan sebuah program radio memliki alasan yang berbeda.
Ringkasnya, penelitian yang dilakukan Herzog dan yang lainnya McQuail, Blumler, and Brown (1972) concluded bahwa seseorang mendengarkan atau menyaksikan program quis dengan alasan: a) Tingkatan diri, b) Interaksi sosial, c) Kegembiraan, dan d) Pendidikan.
Selanjutnya pada tahun 40-an, penelitian dengan mempertanyakan tentang bagaimana kebutuhan dan keinginan pemirsa mungkin mempengaruhi efek dari program suatu media. Swanson (1992) memberi nama penelitian awal yang dilakukan Herzog’s. Pertama, penelitian ini memperkenalkan ide bahwa penonton aktif, dimana seseorang memiliki alasan sendiri untuk mengakses media. Kedua, penelitian ini bermula untuk memahami motif penonton sebagai kepuasan yang didapat dari media. Ketiga, penelitian dalam terdisi ini memiliki inti bahwa penonton mempunyai kemampuan menyediakan informasi yang berguna mengenai motif dan keinginan berkenaan dengan media.
Pernyatan formal pertama mengenai teori uses and gratifications berasal dari Katz, Blumler, dan Gurevitch (1974) mereka menyebutkan point dasar dari kerangka pernyataan uses and gratifications mencakup: 1) asal usul sosial dan psikologi 2) membutuhkan, 3) expextasi secara umum 4) media massa atau sumber lainnya, 5) dimana perbedaan yang pasti mengenai media massa 6) menghasilkan kebutuhan gembira 7) dan konsekuensi lainnya.

Asumsi Dasar
Katz, Blumer, dan Gurevitch menjelaskan mengenai asumsi-asumsi dari teori uses and gratifications. Asumsi-asumsi tersebut antara lain adalah sebagai berikut :
1. Khalayak dianggap aktif, artinya sebagian penting dari penggunaan media massa diasumsikan mempunyai tujuan.
2. Dalam proses komunikasi massa banyak inisiatif untuk mengaitkan pemuasan kebutuhan dengan pemilihan media terletak pada anggota khalayak.
3. Media massa harus bersaing dengan sumber-sumber lain untuk memuaskan kebutuhannya. Kebutuhan yang dipenuhi media hanya bagian dari rentangan kebutuhan manusia yang lebih luas. Bagaimana kebutuhan ini terpenuhi melalui konsumsi media amat bergantung kepada perilaku khalayak yang bersangkutan
4. Banyak tujuan pemilih media massa disimpulkan dari data yang diberikan anggota khalayak: artinya, orang dianggap cukup mengerti untuk melaporkan kepentingan dan motif pada situasi-situasi tertentu.
5. Penilaian tentang arti kultural dari media massa harus ditangguhkan sebelum diteliti lebih dahulu orientasi khalayak.

Kepuasan Apa yang dilihat dan didapat dari media?
Bagian terbesar dari studi pada uses and gratifications tradisi mencoba untuk menjawab pertanyaan mengenai kepuasan yang dilihat dan dirasakan dari media dengan mengembangkan tipologi kepuasan. Teori uses and gratifications melewati sebuah daftardalam mempertimbangkan konsep dari kegunaan apa yang disediakan oleh media. Dua teori pembangunan patut memperhatikannya. Pertama, sejumlah biaya dapat dianjurkan dalam kebutuhan yang bisa dibagi kedalam asas pokok yang tidak sama. Hal penting kedua mengenai teori pembangunan dengan memperhatikan kepuasan tipologi adalah perbedaan antara kepuasan yan dilihat dengan kepuasan yang dirasa. Perbedaan ini membuat poin bahwa apa yang seseorang mau dari media tidak selalu apa yang seseorang dapat dari media.

Bagaimana media digunakan dalam proses kepuasan?
Bermacam kepuasan yang dilihat dan dirasa dari media, dan kepuasan ini bisa melukiskan penggunaan isi dari katagori dan bermacam tingkatan abstraksi. Pertanyaan teori sisanya untuk uses dan gratifications adalah pendekatan kemudian proses kepuasan mana yang berhubungan dengan kelakuan dan sikap pemirsa.
Satu garis dasar dari penelitian menyelidiki proses dimana kepuasan audience mempengaruhi kelakuan dan pengeluaran. Kim dan Rubin (1997) menyimpulkan banyak mengenai penelitian ini, mencatat tiga cara dimana aktivitas pemirsa, fasilitas media dan efeknya. Pertama adalah selectivity, disini individu yang melihat kepuasan tertentu akan selektif menaruh perhatian mereka ke media tertentu. Kedua adalah atention, disini individu akan memberikan pengetahuan mereka untuk konsumsi media.berdasaran kepuasan yang dilihat. Ketiga adala proses involvement dengan media, disini audience sering menangkap pesan dan mungkin membangun hubungan dengan karakter media.

Perluasan dan kritik pendekatan uses and gratifications
Teori uses and gratifications memiliki kritik karena menjadi sangat sempit dalam pikiran. Pertama, Swanson (1992) catatan bahwa sedikit perhatian telah membayar sebuah proses mulai dari awal sampai akhir audience menafsirkan text yang diberikan media. Ini berarti bahwa individu memiliki kemampuan menerjemahkan atau menerima pesan dalam cara menyediakan berbagai kepuasan. Kedua uses and gratifications teori telah mendapat kritik karena menjadi teori individualistik yang sempit.

MEDIA SYSTEMS DEPENDENCY THEORY

Teori sistem media dependensi (MSD) dan uses and gratification seringkali disama-samakan (atau terlihat serupa) dalam penjelasan dari teori media. Tentu saja, telah dilakukan usaha untuk menggabungkan dua teori ini ke “model uses and gratification dari komunikasi massa” (Rubin & Windahl, 1986). Bagaimanapun, perkembangan dari MSD, Sandra Ball-Rokeach dan Melvin DeFleur, dari kerangka mereka sebagai sesuatu yang jelas dari uses and gratification; karena itu, ini merupakan sesuatu yang menyenangkan sebagai sebuah teori yang independen. Sebagaimana kita menjalankan pekerjaan MSD kita hingga selesai, kita menyoroti perbandingannya antara uses and gratification, tapi hal itu penting untuk diingat, kerangka ini menunjukkan “perbedaan kisah, pertanyaan, dan pola pikir” (Ball-Rokeach, 1998, p, 5). Perbedaan kisah, pertanyaan, dan pola pikir ini seringkali mengubah MSD menjadi beberapa bagian yang besar dari teori lain yang masih dipertimbangkan pada bab ini
Teori Sistem Media Dependensi: Kerangka Dasar
MSD, pertama yang diusulkan oleh Ball-Rokeach dan De Fleur (1976), mempunyai pada [hati/jantung] nya suatu sistim yang tiga pihak di mana media, pendengar, dan masyarakat nampak oleh mempunyai hubungan ketergantungan satu sama lain. Sistim tiga pihak ini digambarkan di dalam gambar 142.
Masing-masing komponen sistem adalah yang dilihat ini sebagai tergantung pada komponen-komponen yang lain di dalam sistim dengan membujuk untuk terus sumber daya untuk mencukupi sasaran. Di dalam kata-kata dari Ball-Rokeaach dan DeFleur (1976), ketergantungan adalah "suatu hubungan di mana kepuasan kebutuhan-kebutuhan atau pencapaian dari sasaran oleh satu pesta(pihak adalah ketidak-tentuan atas sumber daya dari pihak yang lain". Sebagai contoh, suatu organisasi media boleh jadi tergantung pada suatu struktur yang politis untuk misi untuk menyiarkan. Atau suatu organisasi pabrikasi akan bergantung pada sistim media untuk mengiklankan produk nya dan meningkatkan penjualan. Atau perorangan akan bersandar pada surat kabar itu untuk menyediakan informasi tentang apakah apartemen-apartemen avaible untuk sewa. Ini adalah contoh f hubungan ketergantungan, di bagian nya tersebut masyarakat bersandar pada sumber daya dari yang lain membagi kepada sasaran jangkauan.
Di MSD, perhatian tertentu diberikan kepada sumber daya dari sistim media di dalam masyarakat yang modern. MSD ahli teori melihat sistim media seperti membebani satu peran terus meningkat penting sebagai industrialisasi dan urbanisasi sudah berkurang pengaruh dari jaringan sosial yang hubungan antar pribadi. Seperti Merskin (1999) menjelaskan, "Seperti ketika masyarakat sudah menjadi lebih dikotakan dan terindustrialisasi, hidup sudah menjadi kurang mengorganisir di sekitar kelompok sosial tradisional, seperti keluarga dan gereja". Dalam pengaturan sosial yang demikian, media mengendalikan banyak sumber daya informasional melalui kapasitas mereka untuk menciptakan, proses, dan menghamburkan informasi kepada pendengar-pendengar di suatu nasional atau bahkan skala global. Karena media mengendalikan ini sumber daya informational kritis, individu mengembangkan hubungan ketergantungan di sekitar kebutuhan akan memahami ing, dan permainan. Seperti Lose-lose dan Ball-Rokeach (1993) uraikan hubungan ini, "Ketika individu developexpectation yang sistim media dapat menyediakan bantuan terhadap pencapaian dari sasaran mereka, individu perlu mengembangkan hubungan ketergantungan dengan media atau medium, mereka merasa sebagai paling sangat menolong di persuit dari sasaran mereka".
Hubungan tertentu ini akan bunyi cukup banyak seperti suatu gunakan dan penjelasan kepuasan-kepuasan. Sungguh, ketika pengasingan yang diambil, persamaan jelas bersih ada antara kedua pendekatan. Bagaimanapun, MSD melampaui hubungan media individu ini untuk menyediakan suatu gambar yang lebih rumit dari hubungan ketergantungan antara penggunaan kebutuhan individu dan media bahwa termasuk kedua-duanya pengaruh-pengaruh makroskopik dan yang mikroskopis di ketergantungan-ketergantungan. Ini jalan yang utama dilaksanakan jemu akan pertimbangan dari yang lain ketergantungan-ketergantungan di dalam hubungan yang tiga pihak media, pendengar, dan masyarakat. Yang ,MSD mengusulkan bahwa individu tidak selalu para aktor tangguh di dalam kepuasan kebutuhan-kebutuhan mereka karena ketergantungan-ketergantungan dari yang lain kesatuan-kesatuan masyarakat dan organisatoris boleh masuk ke dalam arena.
MSD juga memperluas di konsep dari ketergantungan media yang individu dengan kondisi-kondisi yang terdahulu penetapan dan concequences berhubungan dengan hubungan ketergantungan. Pertama-tama, teori mengusulkan ketergantungan itu di media akan peningkatan selama jam konflik dan perubahan di dalam masyarakat. DeFleur dan Ball-Rokeach (1982) percaya bahwa, selama waktu seperti, akan ada satu kebutuhan yang ditingkatkan untuk informasi dan orientasi dan bahwa hubungan sosial yang dibentuk/mapan akan tidak cukup ke(pada informasi providesuch. Sebagai contoh, Kellow dan Steeves (1998) bantah bahwa selama sosial dan pergolakan politis bahwa menandai Rwanda masyarakat dalam 1994, keseluruhan penduduk negeri itu datang ke bergantung pada pemenuhan radio dari suatu setasiun yang berpengaruh. Ketika hasil, pesan-pesan dari setasiun ini mungkin punya telah suatu pengaruh terutama sekali menandai pada genocisde yang berikut di Rwanda.
MSD teori percaya bahwa pembedaan teoritis ini mengenai konteks-konteks dari ketergantungan adalah kritis karena itu membantu ke arah berhubungan dengan debat antara barang kepunyaan yang kuat dan tradisi-tradisi media barang kepunyaan yang terbatas. Yang ,pada waktunya dari pergolakan sosial, individu boleh tergantung sebagian besar di media dan dimakan karat oleh media. Selama sekarang, suatu model barang kepunyaan yang kuat akan didukung. Selama periode-periode lebih historis stabil, dibatasi barang kepunyaan akan mungkin dingamati.
MSD juga mempertimbangkan sebagian dari consecuences dari hubungan ketergantungan. Sebagai contoh, suatu hubungan ketergantungan akan memimpin individu untuk membingkai isu-isu tertentu sebagai mereka yang penting untuk mempertimbangkan; menganggap. Thios proses dari pengaturan agenda dicakup?ditutup di dalam jauh lebih detil di Bab 15. Mengenai MSD, itu adalah yang penting untuk menunjuk bahwa ini kemajuan, lagi; kembali, melibatkan hubungan antar bermacam organisasi-organisasi masyarakat dan karenanya konsumsi dan hubungan daya tingkatan mikro kirim antar lembaga; institusi dan organisasi-organisasi masyarakat. MSD juga menekankan bahwa hubungan-hubungan ketergantungan antar lembaga; institusi dan organisasi-organisasi masyarakat. MSD juga menekankan bahwa hubungan-hubungan ketergantungan pergi kedua cara dan bahwa sumber media boleh melakukan penyesuaian isi mereka berdasar pada hubungan-hubungan ketergantungan pendengar.

Test-Test dan Perluasan-perluasan Teori Ketergantungan Sistem Media
Aplikasi-aplikasi MSD sudah melihat terutama pada ketergantungan-ketergantungan media pendengar. Aplikasi-aplikasi ini telah memasukkan penjelasan-penjelasan untuk jumlah pembaca surat kabar (Lose-lose &Ball-Rokeach, 1993), karena akses ke(pada nasihat relational di dalam surat kabar para laki-laki dan perempuan (Duran &Prusank, 1997), untuk interaksi parasocial dan ketergantungan-ketergantungan di televisi shooping jaringan (Dana, Guthrie, &Ball-Rokeach, 1998), dan untuk pengembangan dari iklan-iklan pribadi oleh US. surat kabar sehari-hari (Merskin &Huberlie, 1996).
Pengembangan-pengembangan teoritis di MSD juga mempunyai revolved di sekitar hubungan antara tingkatan yang mikro mengeluarkan dan tingkatan makro mengeluarkan. Sebagai contoh, DeFleur dan Dennis (1996) sudah mencoba untuk menarik keluar pembedaan-pembedaan ini dengan pemisahan teori ke dalam dua bagian: teori ketergantungan sistem media (makro) dan teori ketergantungan informasi media (mikro). Ball-Rokeach (1985) sudah menerima tugas dari berbaring ke luar asal-muasal yang kemasyarakatan dari ketergantungan sistem media untuk pemahaman kita bantalan faktor-faktor betapa struktural memainkan ke dalam pengembangan dari hubungan-hubungan ketergantungan. Bagaimanapun, beberapa kritikus percaya bahwa MSD bisa pergi bahkan lebih lanjut di dalam mempertimbangkan hubungan kekuasaan homogenic betapa kepemilikan dan kendali mencakup di dalam ketergantungan-ketergantungan bahwa mengembangkan antar organisasi-organisasi media, lembaga; institusi, dan para anggota pendengar individu.

TEORI MEDIA DAN EMOSI

Bila kita lihat tentang teori pengertian sosial dimulai dari bab ini, kita sebagian besar berbicara tentang pengaruh dari sumber media dalam bertingkah laku. Dan bila kita menganggap bahwa kepercayaan atau ketergantungan itu hidup diantara para pemain media atau membicarakan kegunaan merek media itu. Kita acapkali membicarakan tentang kesadaran dan persoalan informasi. Ini tidak sepenuhnya benar, karena sebuah kesalahan adalah khas kepuasan media dalam sedikit memasukkan fungsi hiburan. Bagaimanapun, reaksi seperti itu sebagai kesenangan, menjijikan, ketakutan, dan kehebohan seringkali terlihat pada akibat sebelah belakang ke persoalan seperti itu sebagai perubahan sikap, susunan sikap, dan pengatahuan. Ini tidak akan benar dalam menentukan kerangka teoritis memeriksa kita pada bab ini. Disini kita menemukan sekumpulan yang bersifat menjelaskan pernyataan yang menaruh cara untuk membangunkan emosi dan mempengaruhi pusat pertunjukan. Walaupun kita membicarakan pekerjaan itu sekarang ini tidak ada satu yang masuk akal pada teori, itu betul-betul ada pada bab ini untuk dua alasan penting. Pertama, pekerjaan ini jelas teoritis bahwa didalamnya mengemukakan kebiasaan menjelaskan emosional dan individualis cenderung berreaksi ke gambaran media. Kedua, pekerjaan ini mewakili kumulatif dan usaha yang masuk akal karena kumpulannya menceritakan ilmu pengetahuan dalam disiplin berkomunikasi. Pekerjaan ini banyak dimulai oleh Dolf Zillmann dan pekerjaan utamanya mengenai emosi dan media. Pekerjaan itu dilanjutkan oleh Zillmann dan dia berkolega selama 30 tahun dan dia meneliti bermacam-macam kumpulan pertanyaan hal emosional dan cenderung berreaksi ke media.
Dalam mempertimbangkan pengaruh emosi dari media itu, bermanfaat untuk sebuah permulaan jalan keluar dengan dua ide yang biasa hampir kita lakukan sehari-hari. Pertama-tama, kita sering kali berbicara tentang menonton televisi sebagai jalan untuk melepaskan tekanan dari hari yang sulit. Dalam perbedaan, kita mendapatkan banyak peristiwa dari media karena kehebohannya itu kita ikut merasakan pengalaman. Demikian, perasaan kita biasa memberi kesan bahwa dalam penyajian media massa memiliki dua kemampuan untuk membangkitkan dan ketenangan emosi kita. Penelitian menghasilkan dasar pandangan, selama tinjauan Zillmann dalam kesusasteraan itu menyimpulkan bahwa media dapat menyajikan dua hal sebagai ”pemuka hebat” dan sumber kehebohan, mengandalkan pada individualis, penyajian media terpilih, dan konteks.
Demikian, dasar pemikiran itu berhubungan dengan pengaruh emosi media yang niscaya benar. Bagaimanapun, teoritikus Zillmann dan koleganya ini pergi melebihi alasan sederhana dan dalam pengaruh hubungan ini menetapkan keanekaragaman mekanisme yang mana isi media dan pengaruh penonton ini cenderung terbuka dan reaksi emosi. Penelitian itu lebih dulu sangat besar kita pertimbangkan, karena teoritikus memulai untuk tiga hal penting itu disini. Seperti peran untuk pergantian eksitasi, peran untuk ketegasan, dan pengaruh dari masyarakat dan unsur pembangunan.

Pertukaran Eksitasi Teori
Proses pertukaran eksitasi satu tempat pertama oleh Zillmann dan koleganya mengenalkan tentang penjelasan mengerti reaksi emosional terhadap media. Teori pertukaran eksitasi dimulai atas dasar konsep penimbulan. Biasanya sebuah penimbulan memberikan definisi bahwa satuan kekuatan itu menyajikan untuk memperkuat atau kelakuan yang penuh semangat. Biasanya keperluan tidak selalu positif atau negatif dan itu semua tidak pula menegaskan tentang keterangan atau petunjuk untuk hal kelakuan.
Karena penimbulan disini tidak memiliki karakter yang spesifik, Zillmann mengusulkan bahwa penimbulan itu dari satu rangsangan dapat mentransfer untuk mempengaruhi atau menghubungkan perilaku pada yang lainnya. Pada anggapan penerimaan yang menengahi komunikasi, pertukaran eksitasi memiliki kekayaan dalam mempertontonkan keduanya dan selama menangkap hal itu. Misalnya, Zillmann mendirikan tingkah laku yang agresif mengikuti penerimaan kepada salah satu hal yang agresif atau salah satu film yang erotik dan sebagian besar rekan dengan tingkah laku yang agresif merupakan penerimaan kepada erotik film.
Dalam ikhtisar, teori pertukaran eksitasi mengemukakan bahwa suatu hal yang ditimbulkan dari media memiliki sisa pengaruh dari pemindahan itu yang kemudian menjadi sebuah pengalaman, dan penjelasan ini mendapat perlakuan-perlakuan yang hebat dari kenyataan akan bantuan diantara bermacam-macam keadaan atau letak. Dua hal penting dalam aspek teori sebaiknya dapat menegaskan.

Reaksi Empati Kepada Isi Media
Perlakuan teori pertukaran eksitasi dengan hal yang sudah umum dan tanpa isi yang menimbulkan emosi dari hubungan media. Ini pun penting untuk mempertimbangkan jawaban emosi itu maupun isi yang spesifik: kita turut merasakan reaksi tersebut bahwa apa yang kita temui seperti menyaring atau membaca pada bagian halaman. Jadi daerah kedua yang menurut Zillmann itu, memiliki daya tangkap atau perhatian dan kerabatnya turut terlibat dalam hubungan emosional diantara para anggota dengan penonton media dan isi pertemuan mereka. Hubungan ini dapat menguji dengan keterangan kepada konsep empati. Empati diakui secara luas mempelajari konsep kejiwaan bahwa hal itu menganggap satu tanggapan individualis yang mengamati pengalaman yang lain.
Pengaruh apa yang kemudian empati ini merasa bahwa reaksi dari media massa? Tempat ini lebih dulu untuk penelitian bukan sebagai penyusunan mata air untuk teori pertukaran eksitasi, Zillmann dan kerabatnya menyelidiki beberapa persoalan teoritis. Hal umum melalui pendekatan dikemukakan oleh Zillmann dan kerabatnya yang baru saja mengolah tentang struktur dramatis dan media sebagai dunia teater.
Proses ini untuk menggiatkan kembali apa itu empati dalam luasnya jarak pembelajaran. Pada fakta ini, proses dapat mengamati pada keduanya yaitu khayal dan penyajian dramatis dan pada reaksi yang bersifat sebagai rencana berita.

Faktor Sosial dan Pembangunan
Tempat terakhir dapat menerima perhatian menurut teoritikus tentang emosi dan pertimbangan pembangunan media dan faktor sosial itu merupakan pengaruh atas kekuatan sebuah reaksi. Hubungan baik dari penelitian bahwa perilaku ini memiliki tempat dimana pandangan kita memang pantas pada beberapa gagasan yang menceritakan terhadap pemikiran eksitasi dan lebih awal menceritakan empati.
Perbaikan yang serupa ini membuat dengan menganggap pada peran hubungan sosial. Sebagian besar teori dan penelitian kita bicarakan pada bagian individualis yang terlibat pada reaksi media. Bagaimanapun kita sering kali atas rombongan orang lain yang dimana kita menonton televisi atau pergi ke bioskop. Sementara ini para sarjana ingin meneliti tentang peran sebuah teman dalam sebuah keterangan, laki-laki melawan rekan perempuannya dalam reaksi emosional terhadap media.

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan

Keempat teori yang dibahas di atas, kita melihat adanya hubungan antara individu dengan efek dari media. Teori-teori ini secara luas menganut paradigm post-positive dalam mengemukakan secara umum dan penjelasan fenomena komunikasi. Teori-teori tersebut secara menjelaskan bagaimana individu menggunakan media dan dampaknya dari media tersebut.

0 komentar:

Poskan Komentar