Selasa, 25 Mei 2010

TEORI-TEORI PERCAKAPAN DAN INTERAKSI

Komunikasi adalah suatu proses tansaksional yang mana tindakan seorang individu memiliki jarak yang lebar yang berpengaruh pada tindakan orang lain. Dalam pembahasan ini akan dijelaskan adanya empat teori yang tampak pada diri manusia yang memiliki sikap saling mempengaruhi satu sama lain dalam percakapan dan interaksi, yaitu Teori Manajemen Makna Terkoordinasi, Teori Akomodasi Komunikasi, Teori Pelanggaran Harapan, dan Teori Adaptasi Interaksi.
Teori Keterampilan Berbicara
Teori keterampilan berbicara bersumber pada bagian yang besar dari perkembangan bahasa dan filosofi. Secara jelas sebuah pragmatis teori bahasa digunakan pada percobaan untuk mengkodekan aturan permainan bahasa yang bervariasi terhadap orang-orang yang berinteraksi. Akan tetapi, teori keterampilan berbicara tidak semuanya tidak berhubungan dengan semantik, sintatis, dan sistem bahasa formal lainnya dan filosofi terhadap teori yang masih diuji untuk mengkodekan sebuah sistem bagaimana interaksi dapat menggunakan bahasa untuk menyempurnakan tujuan komunikasi.
Kehidupan modern dipenuhi dengan kesempatan-kesempatan untuk berbicara di depan orang lain. Mempelajari public speaking (berbicara di depan publik) sangat penting pengaruhnya bagi kita, hal ini menjadi kegiatan yang ditakuti, beberapa jajak pendapat menyatakan bahwa orang lebih takut terhadap public speaking dibandingkan kematian.

Salah satu filusuf dalam kegiatan public speaking atau retorika yang terkenal pada jaman Romawi kuno ialah Aristoteles. Aristoteles biasanya dikenal sebagai orang yang memberikan penjelasan mengenai dinamika public speaking. Dengan kata lain, Aristoteles orang pertama yang memberikan langkah-langkah dalam Public speaking
Untuk memahami kekuatan di balik kata-kata Aristoteles, sangat penting bagi kita untuk pertama-tama memahami sifat dasar dari retorika. Dengan demikian, kita dapat menjabarkan kefasihan yang sederhana dari teori retoris.
Teori Retorika berpusat pada pemikiran mengenai retorika, yang disebut Aristoteles sebagai alat persuasi yang tersedia. Maksudnya, seorang pembicara yang tertarik untuk membujuk khalayaknya harus mempertimbangkan tiga bukti retoris: logika (logos), emosi (pathos), dan etika/kredibilitas (ethos). Khalayak merupakan kunci dari persuasi yang efektif, dan silogisme retoris, yang mendorong khalayak untuk menemukan sendiri potongan-potongan yang hilang dari suatu pidato, digunakan dalam persuasi.
Aristoteles merasa bahwa khalayak sangat penting bagi efektivitas seorang pembicara. Ia menyatakan, ”dari tiga elemen dalam penyusunan pidato-pembicara, subjek, dan orang yang dituju-yang terakhirlah, para pendengar, yang menentukan akhir dan tujuan dari suatu pidato (Roberts, 1984). Membahas lebih lanjut mengenai pemikiran ini (Lord, 1994) mengamati bahwa khalayak tidak selalu terbuka untuk menerima argumen yang rasional.

Para ilmuwan komunikasi telah mempelajari Retorika dan maknanya selama bertahun-tahun dan telah berusaha menguraikan beberapa pernyataan Aristoteles. Konsep pidato terletak pada fondasi sebuah pragmatis dan bahasa biasa yang mendekat ke arah ilmu bahasa. Singkatnya, teori pidato mengusulkan kalau kami mengatakan sesuatu kita tidak hanya menyambung-nyambungkan kata atau malah melambangkan suatu arti. Sepertinya, kita sedang melakukan tindakan dengan kata. Ini terpusat pada tindakan tersirat yang sangat memberi label konsep (berpidato).

1 komentar:

Anonim mengatakan...

anjing lu

Poskan Komentar