Selasa, 25 Mei 2010

Wacana Komunikasi Massa

media_relations1Tulisan ini sekadar pengantar wacana “komunikasi massa” maupun diskusi tentangnya. Tujuannya, agar dengan membaca dan mendiskusikannya, kita semakin mengakrabinya, lalu –pada gilirannya—tertarik memperdalamnya lebih jauh lewat berbagai sumber referensi dan aktivitas yang lain.

Berbagai Definisi tentang Komunikasi
Komunikasi merupakan salah satu aspek kehidupan manusia paling mengisi (pervasive), penting lagi komplek (rumit). Demikian kata Stephen W. Littlejohn (1996). Namun, dari sana terkandung salah satu paradox yang paling saya hayati sampai saat ini, yakni soal pendefinisian “komunikasi” itu sendiri.

Di satu sisi, banyak ahli atau teoritisi bidang komunikasi terlalu sulit mencari definisi yang pas. Anehnya di sisi yang lain, justru banyak orang awam di bidang itu mempermudahnya dengan komentar “ngomong ama orang lain itu udah termasuk komunikasi”. Jadi, semakin sulit upaya mendefinisikan “komunikasi”, semakin mudah orang melakukan simplifikasi (penyederhanaan masalah).

Tapi, apakah upaya memahami komunikasi mulai dengan mencari dan memahami definisinya bukan tindakan yang penting? Jelas tidak! Bagaimanapun mencoba mendefinisikan komunikasi dan memahami definisinya menjadi dasar pemikiran kita mengeksplorasi lebih lanjut segala hal tentang komunikasi itu sendiri. Namun, sekali lagi, itu tidak mudah.

Stephen W. Littlejohn (1996) menulis, kalau “proses saling terhubungnya bagian-bagian yang tak tersambung dalam kehidupan dunia” (Jurgen Ruesch, 1957) mendefinisikan “komunikasi”, tentu saja menjadi terlalu umum. Sebaliknya kalau “komunikasi” didefinisikan sebagai “makna dari pengiriman pesan-pesan dan perintah-perintah militer via telepon, telegram, radio dan kurir” (The American College Dictionary, 1964), tentu saja menjadi terlalu sempit.

Definisi lain, yang menyebutkan “komunikasi adalah pertukaran pemikiran dan ide secara verbal” (John B. Hoben, 1954), cenderung terlalu optimis, karena mengandaikan bahwa dalam komunikasi pemikiran dan ide itu berhasil dipahami dan karenanya pula berhasil dipertukarkan. Sementara definisi yang lebih netral rasanya kurang ketat, seperti “komunikasi adalah suatu transmisi informasi” (Bernard Berelson dan Gary Steiner, 1964), peduli amat apakah informasi itu diterima dan dipahami atau tidak.
Suatu definisi yang lebih mencerminkan fenomena “komunikasi” yang kita alami sehari-hari misalnya “komunikasi mencakup pemahaman bagaimana manusia melakukan penciptaan, pertukaran dan penafsiran pesan-pesan” (Stephen W. Littlejohn, 1996). Atau, agar lebih memperlihatkan proses yang agak sedikit konkret, komunikasi bisa juga diartikan sebagai proses “siapa mengirimkan pesan macam apa melalui media apa kepada siapa dan menimbulkan efek seperti apa” (Harold D. Lasswell), sehingga komunikasi merupakan pertukaran pesan (message) yang berproses di antara pengirim/sumber (source/komunikator), perantara (medium/media) dan penerima/sasaran (receiver/komunikan/audience), dan efek yang ditimbulkannya.

Lebih lanjut, pendekatan konvergensi menambahkan adanya umpan balik (feedback) sebagai unsur yang penting untuk menggambarkan adanya pengiriman pesan balik dari penerima kepada pengirim. Bahkan, paradigma partisipatif mengusulkan tidak lagi pentingnya status “sumber” dan “penerima”, namun semuanya adalah “partisipan” dalam proses komunikasi yang partisipatif (Manfred Oepen, 1988, dalam P3AM, 1988).

Antara Communication dan Communications
Lebih lanjut, pengistilahan dalam bahasa Inggris ternyata ikut mengembangkan peta pemahaman tentang komunikasi, seperti konsep-konsep “communication” dan “communications” yang berbeda satu sama lain. Communication (tanpa “s”) menunjuk pada proses komunikasi, yang mendorong adanya interaksi sosial (antar manusia). Sedangkan communications (dengan “s”) menunjuk pada perangkat teknis yang digunakan manusia dalam proses komunikasi itu. (William L. Rivers, Jay W. Jensen, dan Theodore Peterson, 2003).

Mengutip penegasan Edward Sapir, ketiga penulis di atas (Rivers, Jensen dan Peterson, 2003) memposisikan communication sebagai proses primer dalam komunikasi, dan terdiri dari bahasa, gerak tubuh, peniruan perilaku pihak lain dan perilaku sosial. Sedangkan communications diposisikan sebagai teknik sekunder yang mencakup segenap instrumen/alat dan sistem yang mendukung proses komunikasi seperti kode Morse (bukan bahasa!), pekik terompet, kertas, pulpen, alat cetak, film, pemancar siaran radio dan televisi, serta internet.

Secanggih apapun, sedahsyat apapun perkembangannya, semahal apapun harganya, teknik sekunder hanya berfungsi sebagai sarana memudahkan proses primer, yakni proses komunikasi itu sendiri. Apalagi teknik sekunder semakin membuka peluang bagi manusia untuk menciptakan “lingkungan semu” (pseudo-environment) karena dunia obyektif yang dihadapi manusia memang serba “tak terjangkau, tak terlihat dan tak terbayangkan” (Water Lippmann, 1922), ada batasan ruang dan waktu yang menghambat manusia memahami lingkungan hidup sekelilingnya. Akibatnya, muncul kecenderungan manusia untuk menilai segala sesuatu berdasarkan gambarannya sendiri dan –pada perkembangan berikutnya—yang ikut dibentuk/dikonstruksi media itu sendiri.

Meski demikian, teknik sekunder tidak bisa diremehkan kehadirannya. Proses primer, kemampuan berkomunikasi, memang potensi yang dikandung manusia sejak lahir, sebagai salah satu kodrat penciptaan. Namun hanya kemajuan peradabanlah yang memperkenalkan manusia dengan teknik sekunder, sehingga proses komunikasi menjadi semakin mudah dilakukan, maju dan berkembang, seperti sampai saat ini.

Tingkat-Tingkat Komunikasi
Komunikasi sebagai proses selalu terjadi dalam suatu konteks, dalam suatu setting atau situasi tertentu. Konteks setting dan situasi tersebut sangat beragam, sehingga kita perlu membaginya dalam klasifikasi tertentu. Banyak teoritisi komunikasi memiliki klasifikasi masing-masing, namun klasifikasi paling umum yang digunakan, menurut Stephen W. Littlejohn (1996) adalah klasifikasi hirarkial sbb.:

1. Komunikasi Interpersonal
2. Komunikasi Kelompok
3. Komunikasi Organisasional
4. Komunikasi Massa

Komunikasi interpersonal merupakan tingkat komunikasi paling “dasar” yang terjadi di antara individu manusia, dan biasanya dilakukan secara tatap muka dalam setting personal atau pribadi (oleh karena itu tingkat ini sering disebut komunikasi antar pribadi). Dalam perkembangan berikutnya, komunikasi yang menggunakan media antar pribadi (telegram, telepon, radio panggil, internet yang secara khusus dalam penggunaan e-mail dan chatting) dikelompokkan ke dalam komunikasi interpersonal ini.
Komunikasi kelompok terjadi melalui interaksi antar manusia dalam kelompok-kelompok kecil, biasanya dalam setting pengambilan keputusan (decision-making). Berarti, di dalam komunikasi kelompok terjadi juga komunikasi antar pribadi.

Komunikasi organisasi terjadi dalam jaringan-jaringan kerja sama dan mencakup semua aspek komunikasi interpersonal maupun kelompok. Komunikasi organisasi ini meliputi topik-topik seperti struktur dan fungsi organisasi, relasi manusawi, komunikasi dan proses pengorganisasian, serta kultur organisasi.

Komunikasi massa, yang berada dalam tingkat paling “atas”, merupakan komunikasi di dalam setting ruang publik, dan biasanya selalu menggunakan media massa (media cetak dan media siaran seperti radio siaran, televisi dan film). Media massa yang dimaksudkan di sini perlu diperjelas sebagai media yang (biasanya) digunakan secara melembaga, lembaga tersebut berfungsi sebagai sumber yang mengkomunikasikan pesan secara serempak kepada audience yang bersifat massif (massal) dan anonim (tidak lagi teridentifikasi dengan jelas atau spesifik). Maka, menurut saya, penggunaan internet sebagai media komunikasi yang secara khusus disiarkan secara massal, serempak dan hingga tidak diketahui lagi siapa audience yang dimaksud (misalnya penerbitan situs internet) merupakan proses komunikasi massa. Sedangkan pengiriman e-mail melalui mekanisme miling list bukan merupakan komunikasi massa, karena biarpun dikirimkan oleh sumber yang bisa merupakan suatu lembaga, dikirimkan secara serempak dan massal, tetap saja aktivitas pengirimannya bukan aktivitas dan proses komunikasi yang melembaga dan audience-nya teridentifikasi dengan jelas (minimal e-mail address-nya spesifik).

Pergeseran Paradigma Komunikasi Massa
Dibandingkan dengan tingkat komunikasi yang lain, komunikasi massa menyumbangkan perkembangan dan penemuan praktis, teknologis serta teoritis yang lebih besar. Seperti halnya perkembangan peradaban manusia yang umumnya bersifat dialektis, dan seperti yang sudah saya singgung di awal, telah terjadi pergeseran paradigma komunikasi massa dari waktu ke waktu. Dan pergeseran tersebut terjadi karena berkembang pesatnya penelitian, kajian dan diskursus tentang komunikasi sosial. Paragraf-paragraf berikut ini memaparkan pemetaan khasanah teori komunikasi menurut Stephen W. Littlejohn (1996), Denis McQuail (1994) dan Jalaluddin Rakhmat (1995).

Dalam paradigma lama misalnya, banyak penelitian komunikasi di era 1920-1940an menyebutkan bahwa media begitu perkasa di hadapan audience-nya karena kuatnya pengaruh media “menyuntikkan” atau “memberondongkan” pesan hingga menimbulkan efek maksimal yang mempengaruhi audience secara afektif (mempengaruhi sikap dan pendapatnya). Teori-teori yang tergabung dalam paradigma ini misalnya teori “peluru” atau “jarum hipodermik” (C.I. Janis Hovland dan H. Kelly, 1959). Fenomenanya jelas: sandiwara radio berjudul “Invasion from Mars” karya Orson Welles yang disiarkan untuk merayakan hari lahir CBS –salah satu radio terbesar di Amerika Serikat— tahun 1938 menimbulkan kekacauan dan kepanikan luar biasa warga, kecelakaan dan kerugian material jutaan dollar, hanya karena kebanyakan dari mereka “tune in late”, terlambat mendengarkan siaran dari awal, dan mengira siaran itu adalah reportase “breaking news” tentang peristiwa yang benar-benar terjadi. Atau keberhasilan Herman Goering, menteri propaganda rezim Nazi, memobilisir dukungan terhadap invasi Jerman ke nyaris seluruh Eropa (1939-1944), berkat gencarnya siaran radio.

Selain menggambarkan keperkasaan media dan maksimalnya dampak pesan, paradigma lama komunikasi juga menunjukkan ciri prosesnya yang bersifat atas-bawah (top-down). Artinya, sumber komunikasi dan media yang mereka kuasai berada dalam posisi paling dan serba menentukan pesan, proses, efektivitas dan dampak macam apa yang terjadi pada audience. Proses komunikasi berlangsung dari sumber yang berada di “atas” ke audience yang berada di “bawah” dan tidak sebaliknya.

Namun pada era 1950-an, paradigma komunikasi telah bergeser. Media tak lagi seperkasa pada era sebelumnya. Muncul penelitian dan teori tentang adanya “2 tahap arus komunikasi” (two-step flow communication) yang menunjukkan adanya beberapa variabel di antara lembaga media dan audience, yang ikut menentukan efektivitas komunikasi. Variabel antara tersebut misalnya peran pemuka pendapat (opinion leader) dalam kelompok-kelompok sosial yang mentukan efektivitas kampanye presiden Amerika Serikat mengumpulkan dukungan, atau opini tetangga sekitar yang ikut menentukan apakah iklan Pepsodent efektif atau tidak membujuk Anda untuk membeli, mencoba dan mengkonsumsinya.

Sedangkan pada era 1970an, penelitian dampak media di Amerika Serikat menunjukkan gejala yang lain sama sekali. Efek media ternyata tak seperkasa era sebelumnya. Justru audience media massa yang lebih menentukan efektivitas proses komunikasi tersebut, karena audience lebih aktif mencari format dan isi pesan, aktif menggunakan dan memanfaatakan media yang tepat, untuk memuaskan kebutuhan mereka akan informasi, bahkan tindakan aktif tersebut mempengaruhi kebijakan media dalam memformat proses komunikasi dan pesan mereka. Demikian tesis dasar teori “Uses and Gratifications”-nya Elihu Katz, Jay Blumer dan Michael Gurevitch (1974). Lebih lanjut Philip Palmgreen (1984) menambahkan kerangka teoritis “Uses and Gratifications” dengan menekankan adanya sistem kepercayaan/keyakinan dan evaluasi dalam diri setiap audience ketika memilih dan memanfaatkan media mana yang menyediakan pesan tertentu yang ia butuhkan. Sebagai contoh, ketika kita percaya bahwa SCTV menyediakan informasi paling “aktual, tajam dan terpercaya”, apalagi setelah kita menonton kemudian mengevaluasinya memang begitu adanya, kita akan terus mencari dan memanfaatkan informasi dari SCTV, dan bukan MetroTV yang mengklaim dirinya satu-satunya TV Informasi di Indonesia. Sebaliknya, jika kita tak lagi percaya dan evaluasi kita terhadap SCTV buruk, dengan mudah kita memindah channel ke stasiun TV lain.

Namun, hampir bersamaan dengan berkembangnya paradigma “Uses and Gratifications”, muncullah teori “Agenda Setting” yang menghidupkan kembali model “jarum hipodermik” namun dengan fokus penelitian yang telah bergeser: dari efek afektif (sikap dan pendapat) ke efek kognitif (kesadaran dan pengetahuan). Artinya, media tetap powerfull membentuk persepsi audience-nya tentang apa yang dianggap penting untuk dicermati dan dipikirkan. (Cohen, 1963; Jalaluddin Rakhmat, 1995). Misalnya dalam penelitian tentang kampanye presiden Amerika Serikat tahun 1972, surat kabar mampu menentukan apa yang dianggap penting oleh masyarakat, dan agenda siaran televisi berkorelasi signifikan dengan agenda para konstituen pemilu (D.L. Shaw dan M.E. McCombs, 1977).

Pada perkembangan selanjutnya, Everet M. Rogers dan F.F. Shoemaker (1979) melakukan penelitian yang melacak proses penyebaran informasi dalam sistem sosial melalui ruang dan waktu. Dari sana ditemukan fakta bahwa media (massa) memiliki efek yang berbeda-beda pada titik-titik waktu yang berlainan, mulai dari menimbulkan pengetahuan hingga mempengaruhi adopsi atau –sebaliknya— penolakan. Teori ini mempengaruhi perkembangan paradigma komunikasi di atas, yang mengembalikan keraguan kita tentang kekuatan media dalam mempengaruhi audience, karena ternyata saluran-saluran interpersonal (komunikasi tatap muka antar pribadi, misalnya) ikut mempengaruhi efek media tersebut. Misalnya, efek sebuah siaran televisi yang paling menghebohkan sekalipun mungkin tidak selalu menyedot banyak penonton, karena interaksi sosial penonton ikut menentukan apakah mutu acara itu layak diperhatikan, sesuai dengan standar moral agama tertentu, dsb.

Tantangan
Semakin lama semakin dirasakan begitu pentingnya komunikasi dalam peradaban masyarakat modern. Mengutip pendapat William L. Rivers, Jay W. Jensen dan Theodore Peterson (2003):

Karena manusia bisa menciptakan simbol-simbol, maka ia juga mampu mengkomunikasikan suatu niat, makna, keinginan atau maksud yang kompleks, dan karena itu pula manusia bisa mengubah bentuk kehidupan sosialnya. Dengan demikian, komunikasi merupakan pendorong proses sosial, yang ditentukan oleh akumulasi, pertukaran dan penyebaran pengetahuan.

Mereka bertiga memberi predikat “landasan masyarakat manusia” kepada komunikasi. Penulis lain seperti John Dewey pernah mengatakan bahwa komunikasi merupakan “hal paling menakjubkan” dewasa ini. Bahkan sejak perkembangan teknologi listrik (Electric Age) dimulai pun Marshal McLuhan sudah memproklamirkan terjadinya Global Village (desa global): dunia sebesar ini semakin mudah dijangkau seolah-olah ia sekecil sebuah desa, gara-gara teknologi listrik mendorong kemajuan komunikasi.

Namun, sejarah mencatat produk peradaban modern tidak hanya membawa berkah, namun seringkali membawa musibah. Demikian pula kemajuan komunikasi dan teknologi informasi, tidak selalu berdampak positif, namun membawa pula dampak negatif.

Neil Postman (1995) pernah menulis, George Orwell –sastrawan Inggris terkenal— boleh “mencemaskan adanya pihak yang ingin menjauhkan kita dari informasi”. Namun sebaliknya Aldous Huxley –penulis buku Brave New World yang terkenal— lebih “mengkhawatirkan mereka yang menjejali kita dengan banyak informasi sampai kita menjadi pasif dan egois”. Kalau Orwell mengkhawatirkan “disembunyikannya kebenaran dari kita” sehingga kita menjadi “masyarakat yang terbelenggu”, Huxley mengkhawatirkan “hilangnya kebenaran dalam lautan informasi yang tidak relevan” hingga mungkin kita menjadi “masyarakat remeh temeh”. Singkatnya, Orwell mengkhawatirkan “kehancuran kita yang disebabkan oleh hal-hal yang kita benci”, sedangkan Huxley mengkhawatirkan “kehancuran kita yang disebabkan oleh hal-hal yang kita sukai”.

Refleksi yang bisa ditarik atas pendapat mereka di atas adalah bahwa manfaat informasi pada hakekatnya adalah relatif. Dan persoalan apakah ia mendatangkan kebaikan atau malapetaka, sangat tergantung pada kita sendiri, manusia, yang menemukan pelbagai teknologi untuk menyebarluaskannya.

Saat inipun, masyarakat kita mengalami dilema yang paralel dengan kekhawatiran di atas. Tatkala pers diberangus semasa rezim otoriter (sejak kemerdekaan hingga masa Orde Baru), kita rasakan betapa mahalnya akal sehat, good government, kebijakan ekonomi yang adil dan standar etika-moral yang memadai. Tapi sebaliknya, ketika pers cenderung liberal seperti sekarang ini, kita merasakan semakin sempitnya ruang survival untuk menjaga obyektivitas wacana, ketepatan bersikap, etika perilaku dan pemikiran yang dewasa. Ditambah lagi adanya kecenderungan memformat segala aspek hidup menjadi sekedar hiburan (asal menarik, lucu, melampiaskan kepenatan, menyenangkan) telah mereduksi kualitas kehidupan, dari soal politik, pendidikan, hingga warta agama. Seolah-olah yang terpenting bukan lagi inti makna atau isi, tapi kemasan atau bungkus.

Dalam arena persoalan semacam itu, setiap orang yang masih punya kehendak baik untuk membangun kehidupan sejati menjadi lebih bermakna pasti merasa dituntut untuk berbuat sesuatu. Salah satunya –dalam konteks ini— adalah merintis proses komunikasi yang lebih memerdekakan, komunikasi yang ikut mendorong pemberdayaan masyarakat ke arah situasi yang lebih baik.

Referensi
Littlejohn, Stephen W. (1996). Theories of Human Communication. USA: Wadsworth Publishing Company. 5th edition.
McQuail, Denis (1994). Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Erlangga.
Postman, Neil (1995). Menghibur Diri Sampai Mati: Mewaspadai Media Televisi. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Pusat Pengembangan Pesantren dan Masyarakat/P3M (1988). Media Rakyat. Jakarta: P3M.
Rivers, William L., Jay W. Jensen, dan Theodore Peterson (2003). Media Massa & Masyarakat Modern. Jakarta: Kencana-Prenada Media.
Rakhmat, Jalaluddin (1995). Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

0 komentar:

Poskan Komentar